Senin, 1 Maret 2027
Resep yang Terlalu Murah
Di apotek, obat yang mahal sering dianggap paling manjur. Padahal dokter tahu, banyak penyakit sembuh cukup dengan istirahat, air putih, dan sabar. Kita saja yang sulit percaya pada resep yang murah.
Naaman panglima besar. Ia datang membawa perak, emas, dan sepuluh potong pakaian. Ia membayangkan penyembuhan yang megah: nabi keluar menyambut, memanggil nama Tuhan, menggerakkan tangan di atas lukanya. Yang ia terima hanya pesan lewat pesuruh. Mandilah tujuh kali di sungai Yordan.
Ia gusar. Bukankah sungai di Damsyik lebih jernih? Untung para pegawainya berani bicara. Seandainya nabi menyuruh perkara sukar, bukankah Bapak akan melakukannya?
Di situ kita sering tersandung. Bukan pada perintah yang berat, tetapi pada perintah yang terlalu sederhana. Berdoa lima menit. Minta maaf lebih dulu. Datang mengaku dosa. Rasanya terlalu murah untuk gengsi kita. Kita menunggu tugas yang besar dan heroik, dan sementara menunggu, tidak melakukan apa-apa.
Yesus pun ditolak di Nazaret karena terlalu biasa. Terlalu dekat. Anak kampung sendiri.
Prapaskah tidak meminta perkara besar. Ia meminta kita turun dan membenamkan diri. Tujuh kali kalau perlu.
Adakah perintah sederhana yang masih kita tunda karena gengsi?
Tuhan, sembuhkanlah aku dari gengsiku, supaya aku taat pada jalan-Mu yang sederhana. Amin.