Minggu, 28 Februari 2027
Cambuk di Rumah Doa
Rumah yang lama tidak dibereskan pelan-pelan berubah fungsi. Ruang tamu menjadi gudang, meja makan menjadi tempat menumpuk barang. Tidak ada yang memutuskan perubahan itu. Ia terjadi sedikit demi sedikit, sampai suatu hari kita tercengang sendiri: kok jadi begini?
Bait Allah di Yerusalem mengalami pergeseran serupa. Pelatarannya penuh pedagang lembu, kambing domba, merpati, dan meja para penukar uang. Semua ada alasannya: peziarah butuh hewan kurban, butuh menukar mata uang. Praktis, masuk akal, menguntungkan. Sedikit demi sedikit rumah doa berubah menjadi pasar, dan tidak seorang pun merasa ada yang salah.
Sampai Yesus datang. Ia membuat cambuk dari tali, mengusir semuanya, menghamburkan uang, membalikkan meja-meja. Jangan kamu membuat rumah Bapa-Ku menjadi tempat berjualan. Ini wajah Yesus yang jarang kita pajang: bukan yang lembut menggendong anak domba, melainkan yang marah. Tetapi marah-Nya bukan lawan kasih; ia justru lahir dari kasih. Cinta untuk rumah-Mu menghanguskan Aku, demikian yang teringat oleh para murid. Orang yang tidak pernah marah melihat kerusakan barangkali tidak sungguh mencintai apa yang dirusak.
Ketika ditantang menunjukkan tanda, Yesus menjawab dengan teka-teki: rombak Bait Allah ini, dan dalam tiga hari Aku akan mendirikannya kembali. Yohanes membuka rahasianya: yang dimaksudkan-Nya ialah tubuh-Nya sendiri. Bait yang sejati bukan lagi gedung, melainkan pribadi Kristus. Dan sejak pembaptisan, tubuh kita pun ikut menjadi bait-Nya. Maka pembersihan Bait Allah bukan sekadar peristiwa purba di Yerusalem. Ia agenda tetap Prapaskah: adakah meja-meja dagang di dalam diri kita yang perlu dibalikkan? Ibadah yang diam-diam mencari untung? Pelayanan yang menagih nama baik?
Bacaan pertama menghadirkan sepuluh firman dari Sinai. Perhatikan kalimat pembukanya, sebelum satu larangan pun diucapkan: Akulah TUHAN, Allahmu, yang membawa engkau keluar dari tanah Mesir, dari tempat perbudakan. Hukum lahir dari pembebasan, bukan sebaliknya. Sepuluh perintah bukan pagar penjara, melainkan pagar jalan pulang, supaya orang yang sudah merdeka tidak kembali menjadi budak: budak berhala, budak kerja tanpa henti, budak keinginan atas milik orang lain.
Dan bila semua ini terdengar seperti kebodohan di mata dunia, Paulus sudah menjawabnya: kami memberitakan Kristus yang disalibkan, sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia.
Tuhan Yesus, masuklah ke dalam bait hatiku. Balikkanlah meja-meja yang tidak berkenan kepada-Mu, dan jadikanlah aku kembali rumah doa. Amin.