Sabtu, 27 Februari 2027
Bapa yang Berlari
Dalam budaya Timur zaman itu, laki-laki tua tidak berlari. Berlari berarti mengangkat jubah, memperlihatkan kaki, kehilangan wibawa di mata sekampung.
Justru itulah yang dilakukan bapa dalam perumpamaan Yesus. Ketika si bungsu yang memutuskan mulih itu masih jauh, ayahnya telah melihatnya. Artinya sederhana dan mengharukan: selama ini ia menunggu sambil terus memandang ke ujung jalan. Lalu ia berlari, merangkul, mencium. Anak itu sudah menyiapkan pidato pengakuan; sang bapa memotongnya dengan jubah, cincin, dan pesta. Yang pulang bersedia menjadi buruh; yang menunggu memulihkannya menjadi anak. Pesta itu bukan hadiah atas pengakuannya; pesta itu meluap dari hati yang lama menunggu.
Nabi Mikha dalam bacaan pertama sudah lama bertanya dengan takjub: siapakah Allah seperti Engkau, yang mengampuni dosa dan melemparkan segala dosa kita ke dalam tubir-tubir laut? Dosa yang diampuni tidak disimpan di laci untuk diungkit lagi. Ia ditenggelamkan ke palung terdalam.
Masih ada si sulung yang merajuk di luar rumah, merasa diperlakukan sebagai buruh padahal anak. Bapa itu keluar juga untuknya. Kepada dua anak yang sama-sama tersesat dengan cara berbeda, bapa yang sama keluar menjemput.
Hari ini, di posisi anak yang manakah kita sedang berdiri?
Bapa, aku berbalik pulang. Berlarilah menjemputku seperti janji-Mu. Amin.