‹ Semua renungan

Jumat, 26 Februari 2027

Mimpi yang Dibuang ke Sumur

Iri hati jarang lahir dari orang jauh. Ia hampir selalu tumbuh di dekat: antar saudara, antar rekan kerja, antar tetangga. Makin dekat jaraknya, makin panas nyalanya.

Yusuf dibenci bukan oleh musuh, melainkan oleh saudara-saudara kandungnya sendiri. Pemicunya jubah indah dan mimpi. Mereka menanggalkan jubah itu, melemparkan Yusuf ke sumur kosong, lalu menjualnya seharga dua puluh syikal perak. Sambil duduk makan, mereka merasa telah mengubur mimpi adiknya. Begitu pikir mereka. Sumur memang bisa menelan orang, tetapi tidak bisa menelan rencana Allah.

Injil menceritakan pola yang sama dalam bentuk perumpamaan: para penggarap membunuh anak tuan kebun anggur supaya warisan jatuh ke tangan mereka. Yesus sedang berbicara tentang diri-Nya sendiri. Ia tahu ke mana kisah-Nya mengarah.

Tetapi dalam kedua kisah itu, kejahatan tidak memegang kata akhir. Yusuf yang dijual justru kelak menyelamatkan saudara-saudaranya dari bencana kelaparan. Anak yang dibunuh menjadi batu penjuru. Tangan manusia membuang; tangan Allah memungut dan menjadikannya pondasi. Itulah harapan Prapaskah: dosa manusia nyata, tetapi rencana Allah lebih panjang napasnya.

Adakah orang yang diam-diam kita benci hanya karena ia tampak lebih dikasihi?

Tuhan, cabutlah iri dari hatiku sebelum ia sempat menggali sumur bagi saudaraku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →