Rabu, 24 Februari 2027
Cawan, Bukan Takhta
Permintaan yang dititipkan lewat orang tua biasanya permintaan yang berat diucapkan sendiri. Ibu anak-anak Zebedeus maju menyembah Yesus dan meminta jatah: kedua anaknya duduk kelak di kanan dan kiri takhta-Nya.
Waktunya janggal sekali. Yesus baru saja berkata bahwa Ia akan diserahkan, diolok-olok, disesah, dan disalibkan. Ia berbicara tentang salib; mereka berbicara tentang kursi. Kesepuluh murid lain marah, dan kita boleh curiga marahnya bukan karena lebih rohani, melainkan karena kalah cepat mengajukan permintaan yang sama. Ambisi memang paling nyaring bunyinya justru di dekat salib.
Yesus tidak membentak. Ia hanya mengganti pertanyaan: dapatkah kamu meminum cawan yang harus Kuminum? Takhta tidak ditawarkan; cawan yang ditawarkan. Di kerajaan-Nya urutan diputar habis: barangsiapa ingin menjadi besar, hendaklah ia menjadi pelayan. Teladannya Dia sendiri: Anak Manusia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Yeremia dalam bacaan pertama sudah lebih dulu mencicipi cawan itu: kebaikannya dibalas persepakatan jahat. Jalan para utusan Allah memang jarang melewati karpet merah.
Dalam kelompok kita masing-masing, kita sedang mengincar kursi atau menyanggupi cawan?
Tuhan, sembuhkanlah aku dari lapar akan kehormatan, dan berilah aku hati seorang pelayan. Amin.