Senin, 22 Februari 2027
Perayaan Sebuah Kursi
Hari ini Gereja merayakan sebuah kursi. Kedengarannya aneh. Tetapi pesta Takhta Santo Petrus memang bukan soal perabot. Kursi di sini lambang tugas mengajar dan mempersatukan umat. Kata katedral pun lahir dari sana: cathedra, kursi uskup.
Menarik melihat siapa yang didudukkan di kursi itu. Petrus bukan lulusan terbaik. Ia nelayan yang pernah tenggelam karena ragu, pernah ditegur keras, dan kelak menyangkal Gurunya tiga kali. Tetapi ketika Yesus bertanya, apa katamu, siapakah Aku ini, ia menjawab tepat: Engkau adalah Mesias, Anak Allah yang hidup. Yesus segera menegaskan bahwa jawaban itu bukan buah kecerdasan Simon: bukan manusia yang menyatakan itu kepadamu, melainkan Bapa-Ku yang di surga.
Di atas batu karang yang retak-retak itulah Gereja didirikan. Melegakan sekali. Gereja tidak berdiri di atas kesempurnaan manusia, melainkan di atas rahmat yang bekerja dalam manusia rapuh.
Dalam suratnya, Petrus yang sudah tua berpesan kepada para gembala: jangan memerintah dengan paksa, jadilah teladan bagi kawanan. Kursi itu rupanya bukan singgasana, melainkan bangku pelayan.
Kita pun punya kursi masing-masing: di rumah, di tempat kerja, di lingkungan. Kursi kita untuk dilayani atau untuk melayani?
Tuhan, jadikanlah setiap kursi yang Kaupercayakan kepadaku tempat melayani, bukan tempat berkuasa. Amin.