‹ Semua renungan

Minggu, 21 Februari 2027

Bekal dari Puncak Gunung

Setiap orang menyimpan kenangan tentang saat-saat terang: retret yang menggetarkan, kelahiran anak pertama, doa yang terasa dijawab langsung. Pada saat seperti itu kita ingin waktu berhenti. Kalau bisa, kita dirikan tenda dan tinggal di sana selamanya.

Petrus mengalaminya di atas gunung. Yesus berubah rupa, pakaian-Nya putih berkilat-kilat, Musa dan Elia hadir berbicara dengan Dia. Petrus terbata-bata: Rabi, betapa bahagianya kami berada di tempat ini; baiklah kami dirikan tiga kemah. Markus memberi catatan jujur: ia berkata demikian sebab tidak tahu apa yang harus dikatakannya. Kita memahami Petrus. Siapa yang rela turun dari saat terindah hidupnya?

Tetapi awan datang, dan suara Bapa tidak berkata: tinggallah di sini. Suara itu berkata: inilah Anak yang Kukasihi, dengarkanlah Dia. Bukan nikmatilah Dia, melainkan dengarkanlah Dia. Begitu suara itu selesai, semuanya kembali biasa: tinggal Yesus seorang diri, lalu mereka turun gunung. Di kaki gunung menunggu jalan ke Yerusalem, jalan salib.

Kemuliaan di gunung itu bukan tujuan, melainkan bekal. Tidak lama lagi ketiga murid ini akan melihat wajah yang sama berkeringat ketakutan di Getsemani. Kenangan akan wajah yang berkilat itulah yang kelak menjaga mereka agar tidak putus harapan. Allah memberi saat-saat terang bukan untuk ditinggali, melainkan untuk dikantongi sebagai bekal melewati gelap. Itu sebabnya kenangan rohani perlu dirawat, dicatat, diceritakan ulang.

Bacaan pertama memperlihatkan gunung yang lain: Moria. Abraham naik membawa Ishak, anaknya yang tunggal, yang dikasihinya. Ia turun membawa anak yang sama, ditambah pengenalan baru akan Allah: Allah tidak menghendaki kematian anak itu; Ia menyediakan sendiri korban-Nya. Berabad-abad kemudian Paulus menyambungnya dalam bacaan kedua: Allah tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi menyerahkan-Nya bagi kita semua. Yang tidak jadi ditanggung Abraham, ditanggung Allah sendiri. Maka Paulus berani berseru: jika Allah di pihak kita, siapakah yang akan melawan kita?

Prapaskah kita saat ini mungkin sedang berada di lembah, bukan di gunung. Justru untuk itulah Gereja menaruh Minggu Transfigurasi di tengah masa tobat: sebagai jendela kecil yang menghadap ke arah Paskah. Cahaya sekejap itu cukup untuk memastikan bahwa gelap bukan kata akhir.

Kenangan terang mana yang perlu kita keluarkan lagi dari kantong untuk menempuh lembah kita sekarang?

Tuhan Yesus, ketika jalanku menurun dan gelap, ingatkanlah aku akan wajah-Mu yang bercahaya, dan akan suara Bapa: dengarkanlah Dia. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →