Sabtu, 20 Februari 2027
Matahari Tak Pilih Atap
Kemarin Yesus meminta kita berdamai dengan saudara sebelum membawa persembahan. Hari ini tuntutan-Nya naik lagi, sampai ke anak tangga yang membuat kita menelan ludah: kasihilah musuhmu dan berdoalah bagi mereka yang menganiaya kamu. Musuh di sini tidak harus tentara; cukup orang yang pernah menyakiti kita.
Alasannya bukan supaya kita tampak mulia, melainkan soal garis keturunan: dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu yang di surga. Dan bukti sifat Bapa itu dipajang di langit setiap pagi: Ia menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, menurunkan hujan bagi yang benar dan yang tidak benar. Matahari tidak pernah menyeleksi atap rumah siapa yang layak disinari. Ia bersinar dulu, tidak bertanya dulu.
Kasih yang hanya membalas kasih, kata Yesus, tidak ada lebihnya; pemungut cukai pun sanggup. Memberi salam hanya kepada saudara sendiri, semua orang bisa. Ukuran anak Allah adalah kasih yang tidak menunggu balasan dan tidak memilih penerima.
Sempurna seperti Bapa terdengar mustahil. Tetapi latihannya bisa sangat kecil: mendoakan dengan tulus satu nama yang paling malas kita doakan. Cukup satu nama, tetapi setiap hari.
Siapa nama itu bagi kita hari ini?
Bapa, matahari-Mu terbit untuk semua orang. Jangan biarkan kasihku lebih sempit daripada sinar-Mu. Amin.