Rabu, 17 Februari 2027
Kota Sebesar Tiga Hari Perjalanan
Mengubah kebiasaan satu orang saja sulit. Mengubah satu keluarga lebih sulit lagi. Lalu bagaimana caranya mengubah satu kota yang luasnya tiga hari perjalanan?
Itulah yang terjadi di Niniwe. Yunus, nabi setengah hati itu, baru masuk sehari perjalanan dan berseru satu kalimat pendek tentang empat puluh hari. Tanpa mukjizat, tanpa tanda ajaib, tanpa pengeras suara. Hasilnya di luar semua nalar: seisi kota percaya kepada Allah, dari raja sampai anak-anak; bahkan ternak diselubungi kain kabung. Raja turun dari singgasananya dan duduk di abu. Kota sebesar itu berbalik arah dalam sehari.
Ternyata bukan hebatnya pengkhotbah yang menentukan, melainkan lembutnya hati pendengar. Niniwe kota asing, tetapi hatinya lebih siap daripada umat pilihan. Karena itu Yesus menyindir angkatan-Nya: orang Niniwe bertobat waktu mendengar pemberitaan Yunus, padahal yang ada di sini lebih daripada Yunus.
Sindiran itu sampai juga kepada kita, yang mendengar Injil sepanjang hidup. Jangan-jangan telinga kita kebal justru karena terlalu sering mendengar. Firman yang paling tajam pun memantul di hati yang mengeras.
Kalau Niniwe berbalik oleh satu kalimat, apa alasan kita belum berbalik setelah ribuan?
Tuhan, lembutkanlah hatiku yang mulai kebal, supaya firman yang kudengar hari ini sungguh membalikkan arah jalanku. Amin.