‹ Semua renungan

Minggu, 7 Februari 2027

Tangan yang Menyeberangi Garis

Kita pernah mengalami masa ketika jarak menjadi aturan. Kursi gereja diberi tanda silang. Salaman diganti anggukan dari jauh. Orang batuk sedikit saja, satu ruangan menoleh. Waktu itu kita mencicipi sedikit rasa hidup orang kusta dalam Kitab Imamat.

Bacaan pertama terdengar kejam di telinga kita: orang kusta harus berpakaian cabik-cabik, berseru najis, najis, dan tinggal terasing di luar perkemahan. Itu bukan sekadar penyakit kulit. Itu kehilangan segalanya: rumah, ibadah, pekerjaan, pelukan. Ia mati secara sosial jauh sebelum mati badan. Bahkan keluarganya sendiri tidak boleh mendekat.

Minggu lalu kita mendengar Yesus berkeliling Galilea, memberitakan Injil dan mengusir setan-setan. Hari ini seorang kusta menerobos semua aturan, berlutut di hadapan-Nya: kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku. Ia tidak meragukan kuasa Yesus. Yang belum ia yakini adalah kemauan-Nya. Sudah terlalu lama tidak ada seorang pun yang mau.

Jawaban Yesus berlapis dua. Ada kata: Aku mau, jadilah engkau tahir. Dan sebelum kata itu, ada gerakan yang lebih berani dari seribu kata: Ia mengulurkan tangan dan menjamah orang itu. Menurut hukum, siapa menyentuh orang najis ikut menjadi najis. Yesus tahu itu. Ia tetap menyeberangi garis, membiarkan diri-Nya dianggap tercemar supaya orang itu pulih. Belas kasihan dalam Injil memang bukan rasa iba dari kejauhan; ia gerak yang mendekat. Bukankah itu ringkasan seluruh Injil?

Ujung kisahnya seperti tukar tempat. Orang itu masuk kembali ke kota dan bercerita ke mana-mana, sementara Yesus justru tidak dapat lagi terang-terangan masuk kota dan tinggal di tempat-tempat sepi. Yang terbuang dipulangkan; yang memulangkan memilih terbuang.

Paulus dalam bacaan kedua meminta kita menjadi pengikutnya seperti ia menjadi pengikut Kristus: hidup bukan untuk kepentingan sendiri, melainkan untuk keselamatan banyak orang. Meniru Kristus dalam bacaan hari ini berarti satu hal: berani menyentuh apa yang orang lain hindari.

Setiap zaman punya kaum kustanya sendiri. Penderita gangguan jiwa. Mantan narapidana. Keluarga yang habis dipergunjingkan. Orang yang pernah salah dan tidak pernah diampuni lingkungannya. Mereka tidak berseru najis di jalan, tetapi kitalah yang diam-diam menjaga jarak. Garis itu tidak tertulis di mana-mana, namun semua orang tahu letaknya. Siapa di antara mereka yang sebenarnya sedang menunggu jamahan tangan kita?

Tuhan Yesus, Engkau tidak jijik menjamah aku. Jadikanlah tanganku sambungan tangan-Mu bagi mereka yang sudah lama tidak disentuh siapa-siapa. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →