‹ Semua renungan

Kamis, 4 Februari 2027

Berangkat Tanpa Bekal

Kemarin kita mendengar Yesus ditolak di kampung-Nya sendiri. Ia tidak berhenti untuk meratap. Hari ini Ia justru memperluas jangkauan: dua belas murid diutus berdua-dua ke desa-desa.

Daftar bawaannya membuat kita geleng kepala. Roti jangan. Bekal jangan. Uang jangan. Baju cukup satu. Yang boleh hanya tongkat dan alas kaki. Orang mau piknik sehari saja tasnya lebih penuh dari itu. Ini keberangkatan atau kenekatan?

Rupanya ada hikmatnya. Bekal yang berlebihan pelan-pelan menjadi tuan. Semakin banyak yang dibawa, semakin sibuk kita menjaganya, dan semakin sedikit kita bergantung pada Allah serta pada kebaikan orang. Murid yang tasnya kosong terpaksa mengetuk pintu rumah orang. Dan lewat pintu yang diketuk itulah Injil masuk: ia diterima bersama tamunya, di meja makan, bukan dari atas panggung. Injil memang paling enak dibagikan sambil duduk sama rendah.

Hasilnya dicatat Markus dengan ringkas: mereka pergi, memberitakan pertobatan, mengusir setan, menyembuhkan orang sakit. Kekosongan tas ternyata bukan penghalang, malah saluran.

Kita jarang diutus tanpa dompet. Tetapi pertanyaannya tetap sama: mana yang lebih kita andalkan, isi tas atau Dia yang mengutus? Setiap pagi kita berangkat membawa pertanyaan itu.

Tuhan, ringankanlah bawaanku, supaya tanganku bebas untuk pekerjaan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →