Rabu, 3 Februari 2027
Terlalu Dekat untuk Percaya
Ada hukum aneh di rumah: masakan ibu terasa biasa saja, masakan warung sebelah terasa istimewa. Padahal kalau keduanya ditukar diam-diam, lidah kita belum tentu bisa membedakan. Rupanya kedekatan bisa menumpulkan penghargaan.
Yesus mengalami hukum itu di Nazaret. Orang sekampung mula-mula takjub mendengar ajaran-Nya, lalu buru-buru menetralkan kekaguman mereka sendiri: bukankah Ia ini tukang kayu, anak Maria? Ah, cah kampung kene. Mereka terlalu hafal masa kecil-Nya untuk percaya pada kebesaran-Nya. Kekaguman berubah menjadi kecurigaan dalam hitungan menit.
Markus mencatat kalimat yang menyakitkan: Ia tidak dapat mengadakan satu mujizat pun di sana. Bukan kuasa Yesus yang habis. Pintunya yang dikunci dari dalam. Iman adalah engsel tempat rahmat berayun masuk; tanpa engsel itu, pintu tetap rapat.
Kita pun sering begitu. Nasihat baik dari orang serumah terdengar cerewet; kalimat yang sama dari pembicara terkenal terdengar seperti hikmat. Rahmat kerap datang lewat orang yang terlalu kita kenal, lalu kita tolak karena bungkusnya terlalu biasa. Padahal Allah memang gemar memakai bungkus yang biasa: roti, air, tetangga.
Siapa di dekat kita yang suaranya sudah lama tidak kita anggap?
Tuhan, bukalah mataku bagi kehadiran-Mu dalam orang-orang yang paling kukenal. Amin.