Selasa, 2 Februari 2027
Mata Tua Simeon
Antrean di puskesmas mengajarkan satu hal: menunggu itu melelahkan. Baru setengah jam saja badan mulai gelisah, mata bolak-balik menatap papan nomor.
Simeon menunggu bukan setengah jam. Ia menunggu hampir seumur hidup. Yang ditunggunya bukan nomor panggilan, melainkan penghiburan bagi Israel. Dan pegangannya samar: janji bahwa ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias.
Hari ini, pada pesta Yesus Dipersembahkan di Kenisah, yang ditunggu itu akhirnya datang. Bukan dengan iring-iringan kerajaan, melainkan digendong sepasang orang desa yang membawa persembahan kaum miskin: dua ekor anak burung merpati. Ratusan orang lalu-lalang di Bait Allah hari itu; hanya dua orang tua yang mengenali-Nya. Mata tua Simeon menatang Anak itu. Mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu, nyanyinya lega.
Maleakhi bernubuat bahwa Tuhan akan masuk ke bait-Nya dengan mendadak. Ternyata mendadak itu bukan gemuruh. Ia menyelinap sebagai bayi berumur empat puluh hari. Yang siap menyambut hanya mereka yang setia menunggu: Simeon yang tua dan Hana yang siang malam berdoa.
Kita sering meminta Tuhan datang cepat. Jarang kita melatih diri menunggu lama. Adakah janji Tuhan yang masih kita tunggui dengan setia, tanpa bosan?
Tuhan, berilah aku mata Simeon: boleh tua, boleh lelah, asal tetap awas menantikan Engkau. Amin.