Minggu, 31 Januari 2027
Malam yang Panjang
Setiap orang pernah mengalami malam yang merentang panjang. Mata terpejam tetapi pikiran berlarian. Jam dua, jam tiga, dan langit-langit kamar menjadi layar bagi segala kecemasan. Menunggu pagi terasa seperti pekerjaan paling berat di dunia.
Ayub mengenal malam semacam itu. "Bila aku pergi tidur, maka pikirku: Bilakah aku akan bangun? Tetapi malam merentang panjang, dan aku dicekam oleh gelisah sampai dinihari." Hidupnya ia sebut hari-hari orang upahan, bulan-bulan yang sia-sia, hembusan napas belaka.
Yang mengagumkan, keluhan segelap itu tidak disensor oleh Kitab Suci. Ia dibiarkan utuh, bahkan dibacakan di hari Minggu. Mazmur pun penuh keluhan semacam itu. Artinya jelas: orang beriman boleh lelah, boleh mengeluh, boleh membawa malam panjangnya ke hadapan Allah tanpa disunting supaya terdengar saleh. Doa tidak harus rapi.
Lalu apa jawaban Allah atas malam Ayub? Injil hari ini menjawabnya bukan dengan teori, melainkan dengan sebuah kunjungan. Minggu lalu kita mendengar Yesus mengajar dengan kuasa di rumah ibadat Kapernaum. Keluar dari situ, Ia masuk ke rumah Simon dan mendapati ibu mertua Simon terbaring demam. Tidak ada khotbah tentang makna penderitaan. Yang ada: Ia pergi ke tempat perempuan itu, memegang tangannya, membangunkannya. Demam itu lenyap.
Menjelang malam, seluruh kota berkerumun di depan pintu membawa orang-orang sakit mereka. Allah menjawab penderitaan manusia dengan kehadiran yang bisa dipegang tangannya. Dan pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Yesus sendiri bangun menuju tempat yang sunyi untuk berdoa. Ia pun punya dinihari, dan dinihari-Nya diisi percakapan dengan Bapa. Dari sana Ia berangkat lagi: "Marilah kita pergi ke tempat lain, karena untuk itu Aku telah datang."
Paulus menyambung dengan semangat yang sama: "Celakalah aku, jika aku tidak memberitakan Injil." Bagi yang lemah ia menjadi lemah; bagi semua orang ia menjadi segala-galanya. Orang yang pernah dipegang tangannya oleh Kristus memang sulit tinggal diam melihat orang lain masih terbaring.
Maka bagi kita yang sedang menjalani malam panjang: mengeluhlah seperti Ayub, jujur sampai habis. Tetapi jangan berhenti di keluhan. Ada tangan yang terbiasa memegang orang demam dan membangunkannya. Dan bagi kita yang sedang sehat: di sekitar kita ada banyak Ayub. Kunjungan kita mungkin cara Allah memegang tangan mereka.
Tuhan, dalam malamku yang panjang, peganglah tanganku dan bangunkanlah aku, supaya aku pun dapat melayani. Amin.