‹ Semua renungan

Minggu, 24 Januari 2027

Satu Suara di Tengah Pasar

Masuklah ke pasar pagi-pagi. Puluhan suara berebut telinga kita: penjual menawarkan, pembeli menawar, pengeras suara memutar lagu dangdut. Semua berbunyi serentak. Dan anehnya, di tengah keriuhan itu, seorang anak kecil tetap bisa mengenali satu suara: panggilan ibunya.

Hidup kita mirip pasar itu. Setiap hari ribuan suara menawarkan arah: kabar, pendapat, bujukan, tren. Semuanya mengaku penting. Salah memilih suara, salah pula arah hidup. Maka pertanyaan tertua umat beriman pun kembali: di antara semua suara ini, mana yang dari Tuhan?

Bacaan pertama menjawab lewat janji kepada Musa: "Seorang nabi akan Kubangkitkan bagi mereka... Aku akan menaruh firman-Ku dalam mulutnya." Dialah yang harus didengarkan. Israel sendiri yang meminta cara ini, sebab suara Allah langsung di gunung Horeb terlalu dahsyat bagi mereka. Allah pun berkenan berbicara lewat manusia. Kelemahannya jelas: suara manusia bisa dipalsukan. Karena itu ada peringatan keras bagi nabi yang berbicara atas nama Tuhan padahal isi kepalanya sendiri.

Minggu lalu kita mendengar Yesus memanggil empat nelayan di tepi danau. Hari ini, pada hari Sabat di Kapernaum, orang-orang menemukan jawaban atas janji Musa itu. "Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat." Kata dan diri-Nya satu. Bahkan roh jahat yang berteriak-teriak pun dibungkam dengan satu kalimat pendek, dan taat.

Di situlah ciri suara Tuhan yang bisa kita pegang sampai sekarang. Suara-suara palsu biasanya nyaring, membujuk, dan menawarkan apa yang ingin kita dengar. Suara Tuhan berkuasa dengan cara lain: ia membebaskan. Orang yang kerasukan itu keluar dari rumah ibadat sebagai orang merdeka. Suara yang benar selalu meninggalkan kita lebih utuh, bukan lebih terikat. Itu ujian yang bisa kita pakai kapan saja.

Paulus dalam bacaan kedua menginginkan satu hal bagi jemaatnya: hidup tanpa kekuatiran, perhatian yang tidak terbagi-bagi, supaya dapat melayani Tuhan tanpa gangguan. Itu sebenarnya resep mendengar yang baik. Telinga yang sudah penuh tidak bisa menerima apa-apa lagi.

Seperti anak kecil di pasar tadi, kita hanya akan mengenali suara-Nya kalau sudah akrab dengannya. Tidak ada jalan pintas selain sering-sering mendengarkan: dalam firman, dalam keheningan, dalam Ekaristi. Keakraban tidak bisa dipinjam. Ia harus dilatih sendiri.

Tuhan, di tengah pasar suara zaman ini, pertajamlah telingaku untuk mengenali suara-Mu, dan berilah aku hati yang taat kepadanya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →