Kamis, 21 Januari 2027
Anak Domba
Namanya saja sudah sebuah khotbah. Agnes, dekat sekali dengan kata Latin agnus, anak domba. Gadis Roma berusia sekitar dua belas tahun, hidup di zaman penganiayaan, menolak dipersunting bangsawan demi kesetiaannya kepada Kristus, dan membayarnya dengan nyawa. Anak domba kecil yang ternyata lebih kuat daripada kekaisaran. Sampai kini Gereja Roma mengenangnya setiap tahun dengan memberkati anak-anak domba pada pestanya.
Dunia mengukur kekuatan dengan otot, usia, jabatan, dan jumlah pengikut. Agnes tidak punya satu pun dari daftar itu. Yang ia punya hanya kepastian bahwa dirinya milik Kristus. Ternyata itu cukup untuk membuat namanya dikenang tujuh belas abad, sementara nama para algojonya lenyap.
Injil hari ini menampilkan kontras yang menarik. Roh-roh jahat berteriak nyaring, "Engkaulah Anak Allah," dan justru dilarang bicara. Sementara orang-orang sakit cukup berdesak-desakan ingin menjamah-Nya. Rupanya Yesus tidak membutuhkan teriakan. Ia membutuhkan hidup yang bersandar.
Kesaksian iman yang paling kuat memang jarang berbentuk suara keras. Ia berbentuk kesetiaan yang tenang: tetap jujur ketika semua orang curang, tetap setia ketika tersedia jalan mundur. Seperti Agnes.
Usia dan kedudukan bukan syarat kekudusan. Anak kecil bisa mendahului kita semua.
Tuhan, seperti Santa Agnes, jadikanlah aku milik-Mu seutuhnya, tanpa syarat dan tanpa takut. Amin.