‹ Semua renungan

Selasa, 19 Januari 2027

Sauh

Nelayan yang melaut malam tahu benda paling penting di perahunya bukan mesin, melainkan sauh. Ketika angin datang dan gelombang naik, mesin bisa mati. Sauhlah yang menahan perahu supaya tidak terseret entah ke mana.

Surat Ibrani meminjam benda itu untuk melukiskan pengharapan: "Pengharapan itu adalah sauh yang kuat dan aman bagi jiwa kita." Tetapi ada yang aneh pada sauh yang satu ini. Ia tidak dilemparkan ke bawah, ke dasar laut. Ia "dilabuhkan sampai ke belakang tabir", ke tempat kudus, tempat Yesus telah masuk sebagai Perintis kita. Sauh yang tertambat ke atas.

Artinya, kekuatan pengharapan kristiani tidak bergantung pada tenangnya laut. Ia bergantung pada kokohnya tempat sauh itu tertancap: janji Allah yang, kata surat ini, tidak mungkin berdusta. Abraham membuktikannya dengan menanti bertahun-tahun, dan ia memperoleh apa yang dijanjikan.

Optimisme dan pengharapan memang berbeda. Optimisme berkata laut akan tenang. Pengharapan berkata: badai boleh datang, sauhku tertancap pada Dia yang setia.

Maka periksalah hari ini: sauh kita tertambat di mana? Pada tabungan, jabatan, kesehatan? Semuanya dasar laut yang bisa bergeser.

Tuhan, labuhkanlah sauh jiwaku pada-Mu, supaya badai boleh mengguncang perahuku tetapi tidak menyeret arahku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →