‹ Semua renungan

Minggu, 17 Januari 2027

Musim yang Tidak Menunggu

Petani tidak pernah bisa menawar musim. Ketika hujan pertama turun dan tanah sudah siap, hari itu juga benih harus turun ke sawah. Menunda seminggu bisa berarti kehilangan satu musim penuh. Alam punya jam yang tidak bisa dimundurkan, dan petani yang baik hidup dengan menghormatinya. Ia membaca langit, mencium bau tanah, lalu memutuskan.

Minggu lalu kita mendengar langit terkoyak di sungai Yordan dan suara Bapa menyatakan Yesus sebagai Anak yang terkasih. Hari ini Yesus tampil di Galilea dengan kalimat pembuka yang berbau musim tanam: "Waktunya telah genap; Kerajaan Allah sudah dekat. Bertobatlah dan percayalah kepada Injil!"

Bahasa Yunani mengenal dua kata untuk waktu. Kronos, waktu yang berdetak di jam dinding, dan kairos, saat yang tepat, musim yang matang. Yang dipakai Yesus adalah yang kedua. Ini bukan pengumuman jam. Ini pengumuman musim: saatnya sudah tiba, tanahnya sudah siap.

Ketiga bacaan hari ini kompak soal itu. Yunus berseru di Niniwe, dan kota sebesar tiga hari perjalanan itu bertobat dalam sehari, dari orang dewasa sampai anak-anak. Paulus menulis kepada jemaat Korintus dengan nada mendesak: "waktu telah singkat", maka jangan lagi hidup seolah-olah dunia ini genggaman abadi. Dan di tepi danau Galilea, empat nelayan mendengar panggilan lalu segera meninggalkan jala mereka.

Segera. Tanpa rapat keluarga, tanpa hitung-hitungan untung rugi. Bukan karena mereka nekat, melainkan karena mereka mengenali musim. Musim memang dikenali bukan dengan menatap kalender, melainkan dengan hati yang peka. Ada tawaran yang tidak datang dua kali dengan cara yang sama.

Kita hidup dengan anggapan diam-diam bahwa waktu selalu tersedia. Pertobatan bisa nanti, berdamai dengan saudara bisa nanti, doa bisa nanti. Padahal yang kita miliki dengan pasti hanya hari ini, dan hari ini sedang kita genggam. Niniwe saja diberi tenggat empat puluh hari. Kita bahkan tidak tahu tenggat kita.

Kabar baiknya, Allah yang memberi tenggat adalah Allah yang sama yang "menyesal" dan membatalkan malapetaka begitu Niniwe berbalik. Ia tidak menunggu kita gagal. Ia menunggu kita pulang. Musim rahmat sedang terbuka lebar. Dan petani mana pun tahu apa yang harus dilakukan pada musim seperti ini: turun ke sawah, hari ini juga.

Tuhan, jangan biarkan aku menyia-nyiakan musim rahmat ini. Hari ini juga aku mau berbalik dan percaya kepada Injil-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →