Kamis, 14 Januari 2027
Selama Masih Hari Ini
Ada satu kata yang paling sering menggagalkan niat baik: besok. Minta maaf, besok saja. Mulai berdoa lagi, besok. Orang Jawa punya kelakarnya sendiri: sesuk wae, besok saja. Dan besok, seperti kita semua tahu, adalah hari yang tidak pernah datang.
Surat Ibrani hari ini seperti tahu kebiasaan itu. "Pada hari ini, jika kamu mendengar suara-Nya, janganlah keraskan hatimu." Lalu ditambah nasihat yang manis: nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, "selama masih dapat dikatakan hari ini".
Hati yang mengeras jarang terjadi mendadak. Ia seperti adukan semen: mulanya lentur, bisa dibentuk apa saja, tetapi setiap jam penundaan membuatnya makin kaku. Sampai suatu saat suara Tuhan masih terdengar, tetapi tidak lagi menggerakkan apa-apa. Untunglah hari ini adukan itu masih bisa dibentuk.
Orang kusta dalam Injil adalah kebalikannya. Ia tidak menunggu besok. Ia datang, berlutut, dan berkata, "Kalau Engkau mau, Engkau dapat mentahirkan aku." Dan jawaban Yesus secepat itu juga: "Aku mau, jadilah engkau tahir."
Tuhan ternyata tidak pernah menjawab "besok saja". Yang gemar menunda hanyalah kita, dengan seribu alasan yang terdengar masuk akal.
Tuhan, inilah aku hari ini, bukan besok. Lembutkanlah hatiku selagi masih dapat dibentuk. Amin.