Jumat, 8 Januari 2027
Buah Tangan
Di negeri ini, berkunjung dengan tangan kosong itu rasanya kurang lengkap. Selalu ada yang dijinjing: pisang dari kebun, kue buatan sendiri, teh kotak dari warung terdekat. Nilainya bukan pada harga. Nilainya pada tangan yang tidak kosong.
Para majus memahami bahasa itu. Sampai di rumah sederhana di Betlehem, mereka "membuka tempat harta bendanya": emas, kemenyan, dan mur. Orang-orang terpelajar itu sujud di depan seorang bayi, lalu membuka kotak harta mereka.
Para bapa Gereja senang membaca tiga hadiah itu sebagai pengakuan iman. Emas untuk raja. Kemenyan untuk Allah. Mur, rempah pengawet jenazah, untuk Dia yang kelak wafat bagi kita. Hadiah mereka adalah teologi yang dibungkus rapi.
Lalu apa isi kotak harta kita? Barangkali bukan emas. Harta kita hari ini bernama waktu, perhatian, tenaga, kesetiaan. Justru itu yang paling mahal di zaman yang serba sibuk. Memberi sisa itu mudah. Membuka tempat harta, itu soal lain.
Yang pasti, tidak ada orang yang menjadi miskin karena sujud. Para majus pulang dengan kotak yang lebih ringan dan hati yang jauh lebih penuh.
Yesus, terimalah buah tanganku hari ini: waktuku, perhatianku, dan hatiku yang kubuka di hadapan-Mu. Amin.