‹ Semua renungan

Rabu, 6 Januari 2027

Lampu Teras

Lampu teras adalah lampu yang aneh. Ia dinyalakan bukan untuk penghuni rumah. Penghuninya tidur di dalam. Ia menyala untuk orang lain: tamu yang datang, tetangga yang lewat, pejalan yang mencari alamat di kegelapan.

Yesaya berseru, "Bangkitlah, menjadi teranglah, sebab terangmu datang." Perhatikan urutannya. Terang itu datang, bukan diproduksi sendiri. "Kemuliaan TUHAN terbit atasmu." Israel tidak diminta menjadi matahari. Ia diminta menjadi permukaan yang memantulkan.

Dan pantulan itu bukan untuk dinikmati sendiri: "Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu." Persis lampu teras tadi. Menyala untuk yang di luar. Ia bekerja sepanjang malam tanpa penonton, dan justru di situ letak gunanya.

Para majus dalam Injil berangkat karena melihat terang kecil di langit. Bukan matahari, hanya satu bintang di antara ribuan. Ternyata cukup. Untuk menuntun orang kepada Kristus, kita tidak perlu menjadi terang yang megah. Cukup setia menyala di tempat kita dipasang.

Kegelapan memang masih menutupi bumi, kata Yesaya. Berita buruk tiap hari seakan membenarkannya. Tetapi jawaban atas gelap tidak pernah berupa keluhan. Jawaban atas gelap adalah nyala, sekecil apa pun.

Tuhan, jadikan hidupku lampu teras: menyala bukan untuk diriku sendiri, tetapi untuk siapa pun yang sedang mencari jalan kepada-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →