Senin, 4 Januari 2027
Pukul Empat
Ada momen yang menempel di ingatan sampai ke detailnya. Orang bisa lupa isi rapat kemarin, tetapi ingat persis suasana sore saat pertama bertemu jodohnya. Ingat warna bajunya. Ingat hujan yang rintik-rintik.
Yohanes penulis Injil rupanya begitu. Puluhan tahun setelah peristiwanya, ia masih mencatat: "waktu itu kira-kira pukul empat." Jam pertama ia tinggal bersama Yesus tidak pernah terhapus dari ingatannya.
Perhatikan juga kalimat pertama Yesus dalam Injil Yohanes. Bukan khotbah, bukan perintah, melainkan pertanyaan: "Apakah yang kamu cari?" Pertanyaan itu tetap segar sampai hari ini. Kita semua sedang mencari sesuatu. Rasa aman? Pengakuan? Ketenangan hati? Dan Ia masih menanyakannya kepada kita pagi ini, dengan nada yang sama sabarnya.
Kedua murid itu tidak menjawab dengan teori. Mereka balik bertanya, "Di manakah Engkau tinggal?" Dan Yesus tidak memberi alamat. Ia memberi undangan: "Marilah dan kamu akan melihatnya." Iman memang tidak bisa diceritakan sampai tuntas. Ia harus dialami, ditinggali.
Surat Yohanes hari ini memakai kata yang sama: tinggallah di dalam Dia. Bukan mampir. Bukan berkunjung sesekali kalau sempat. Tinggal. Sebab kasih tidak pernah tumbuh dari kunjungan singkat.
Yesus, Engkau bertanya apa yang kucari. Sebenarnya yang kucari adalah tempat tinggal bagi hatiku. Izinkan aku tinggal bersama-Mu hari ini. Amin.