‹ Semua renungan

Minggu, 3 Januari 2027

Pulang Lewat Jalan Lain

Waktu listrik padam semalam suntuk di kampung, ada satu hiburan yang tidak bisa dibeli: langit. Bintang-bintang yang biasanya kalah oleh lampu jalan tiba-tiba bermunculan, ribuan jumlahnya. Kita duduk di tikar, menengadah, dan merasa kecil dengan cara yang menyenangkan. Ternyata bintang-bintang itu selalu di sana. Kitanya saja yang terlalu terang untuk bisa melihat.

Hari ini pesta Epifani. Kata itu turunan bahasa Yunani epiphaneia, artinya penampakan. Allah menampakkan diri, bukan hanya kepada Israel, tetapi kepada segala bangsa. Yang menarik, tanda-Nya dipasang di tempat yang hanya terlihat oleh mereka yang mau menengadah: sebuah bintang.

Para majus dari Timur itu orang asing. Bukan umat pilihan, tidak hafal Kitab Suci. Modal mereka cuma kebiasaan menatap langit dan kaki yang mau berangkat. Sementara di Yerusalem, para ahli Taurat menjawab pertanyaan Herodes dengan tepat: Mesias lahir di Betlehem, lengkap dengan kutipan nabinya. Tepat, tetapi tidak beranjak. Betlehem hanya beberapa jam berjalan kaki dari Yerusalem. Tidak seorang pun dari mereka ikut.

Ini ironi yang layak kita pandangi lama-lama. Yang punya kitab tidak berangkat. Yang hanya punya bintang justru sampai. Berapa banyak dari kita hafal ayat tetapi tidak pernah menempuh jalannya? Pengetahuan iman memang baru menjadi iman ketika ia menggerakkan kaki. Herodes lebih parah lagi: ia mendengar kabar sukacita itu dan justru terkejut, sebab bagi penguasa yang takut kehilangan, kabar baik pun terdengar sebagai ancaman.

Yesaya sudah lama bernubuat: "Bangsa-bangsa berduyun-duyun datang kepada terangmu." Paulus menyebutnya rahasia yang kini dibuka: orang-orang bukan Yahudi turut menjadi ahli waris. Kabar baik itu memang tidak pernah dirancang untuk disimpan satu bangsa. Ia seperti terang. Dan sifat terang adalah menyebar. Epifani adalah pesta misioner: Allah bagi semua orang, tanpa loket khusus.

Perhatikan pula akhir kisahnya. Setelah sujud menyembah dan mempersembahkan emas, kemenyan, serta mur, para majus "pulang ke negerinya melalui jalan lain". Alasan praktisnya menghindari Herodes. Tetapi ada makna yang lebih dalam: orang yang sungguh berjumpa dengan Kristus tidak pernah pulang lewat jalan yang sama. Ada arah yang berubah. Ada kebiasaan lama yang tertinggal di Betlehem.

Tahun masih baru. Bintang masih terbit. Pertanyaannya sederhana: sesudah perjumpaan dengan Dia, adakah jalan lama yang berani kita tinggalkan?

Tuhan, terangi mataku untuk melihat bintang-Mu, dan kuatkan kakiku untuk pulang lewat jalan yang baru. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →