Jumat, 1 Januari 2027
Halaman Pertama
Setiap awal Januari, toko buku ramai oleh satu barang: agenda baru. Halamannya masih bersih. Belum ada coretan, belum ada janji yang meleset. Ada yang langsung menuliskan resolusi di halaman itu, rapi dan penuh tekad. Kita menatapnya dengan harapan bercampur sedikit gentar. Tahun ini akan diisi apa?
Menarik sekali, Gereja membuka tahun bukan dengan daftar target. Bacaan pertama di hari pertama justru sebuah berkat: "TUHAN memberkati engkau dan melindungi engkau; TUHAN menyinari engkau dengan wajah-Nya." Sebelum kita sempat berbuat apa-apa, sebelum satu resolusi pun berjalan, wajah Allah sudah lebih dulu menghadap kepada kita. Tahun tidak dibuka dengan tuntutan. Tahun dibuka dengan restu.
Berkat Harun itu ditutup dengan kalimat yang indah: "Demikianlah harus mereka meletakkan nama-Ku atas orang Israel." Diberkati berarti dinamai, ditandai sebagai milik. Seperti Sang Bayi yang delapan hari kemudian diberi nama Yesus, kita pun memasuki tahun ini dengan nama Tuhan terpasang atas hidup kita.
Injil lalu memperlihatkan cara Maria menghadapi peristiwa besar. Para gembala datang dengan cerita yang menggemparkan. Semua orang heran. Tetapi Maria tidak ikut riuh. "Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya." Dua kata kerja yang tenang: menyimpan, merenungkan. Di zaman yang gemar cepat berkomentar, Maria memilih diam yang subur.
Hari ini ia kita hormati sebagai Bunda Allah. Paulus merangkumnya dalam satu kalimat padat: "Setelah genap waktunya, Allah mengutus Anak-Nya, yang lahir dari seorang perempuan." Allah yang mahabesar masuk ke sejarah manusia lewat rahim seorang ibu desa. Dan buahnya bagi kita tidak main-main: kita bukan lagi hamba, melainkan anak. Anak yang boleh berseru, "ya Abba, ya Bapa!"
Maka halaman pertama tahun ini sebaiknya tidak buru-buru kita penuhi dengan rencana. Bagaimana kalau kita mulai seperti Maria? Menyimpan dulu, merenungkan dulu. Menerima berkat dulu, baru melangkah. Orang yang tahu dirinya diberkati akan berjalan berbeda dengan orang yang merasa harus membuktikan diri. Yang satu berjalan dengan tenang. Yang lain berjalan dengan cemas.
Tahun baru bukan lomba lari yang dilepas dengan tembakan pistol start. Tahun baru lebih mirip anak yang digendong, diberkati, lalu diturunkan pelan-pelan untuk belajar melangkah. Pelan tidak apa-apa. Yang penting digandeng.
Tuhan, sinarilah tahun ini dengan wajah-Mu. Ajarilah aku menyimpan dan merenungkan seperti Maria, supaya langkahku lahir dari berkat, bukan dari cemas. Amin.