‹ Semua renungan

Selasa, 29 Desember 2026

Mata Simeon

Di ruang tunggu rumah bersalin selalu ada yang menunggu paling gelisah: calon kakek dan nenek. Dan lihatlah ketika bayi itu akhirnya boleh digendong. Tangan tua yang biasanya gemetar mendadak kokoh, seolah seluruh hidup mengalir menuju saat menimang itu.

Simeon adalah penunggu semacam itu. Ia benar dan saleh, dan kepadanya Roh Kudus berjanji: ia tidak akan mati sebelum melihat Mesias. Betapa panjangnya menunggu dengan janji seperti itu. Sampai suatu hari sepasang suami isteri desa masuk Bait Allah membawa bayi dan sepasang burung tekukur, persembahan orang miskin. Tidak ada tanda kebesaran apa pun. Tetapi Simeon mengenali-Nya, menatang bayi itu, lalu bernyanyi: sekarang, Tuhan, biarkanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.

Bagaimana ia bisa mengenali Allah dalam bayi yang tampak biasa-biasa saja? Surat Yohanes, yang kita ikuti hari-hari ini, memberi kuncinya: inilah tandanya bahwa kita mengenal Allah, yaitu jikalau kita menuruti perintah-perintah-Nya. Pengenalan lahir dari kesetiaan yang lama, bukan dari kecerdasan sesaat. Mata Simeon terlatih oleh puluhan tahun hidup benar.

Keselamatan masih sering lewat dalam rupa yang sederhana. Yang setia akan mengenalinya. Yang tergesa akan melewatkannya.

Tuhan, latihlah mataku dengan kesetiaan, agar aku mengenali Engkau dalam yang sederhana. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →