Senin, 28 Desember 2026
Tangis di Rama
Tiga hari setelah Natal, liturgi tiba-tiba memperdengarkan tangis: terdengarlah suara di Rama, Rahel menangisi anak-anaknya dan tidak mau dihibur. Herodes, demi mengamankan takhtanya, membunuh semua anak di Betlehem yang berumur dua tahun ke bawah. Para bayi itu dikenang sebagai Kanak-Kanak Suci: martir yang mati bagi Kristus sebelum sempat mengenal-Nya.
Kisah ini pahit, dan Injil tidak menyembunyikannya. Kelahiran Sang Terang langsung disambut kegelapan yang membantai. Sampai hari ini polanya berulang: anak-anak selalu menjadi korban pertama dari ambisi orang dewasa. Dalam perang, dalam kemiskinan, kadang di dalam rumah sendiri.
Kemarin kita mendengar Yohanes menulis tentang Firman hidup yang telah dilihat dan diraba dengan tangan. Hari ini suratnya melanjutkan: Allah adalah terang dan di dalam Dia sama sekali tidak ada kegelapan. Lalu kalimat yang menohok: jika kita berkata bahwa kita tidak berdosa, kita menipu diri kita sendiri. Herodes ada dalam sejarah, tetapi bibit Herodes ada dalam hati: keinginan mengamankan takhta kecil kita, berapa pun harganya bagi orang lain.
Kabar baiknya ada di ayat berikutnya: jika kita mengaku dosa kita, Ia setia dan adil mengampuni. Terang tidak datang untuk menghukum orang yang jujur, melainkan untuk menyucikannya.
Tuhan, lindungilah anak-anak di seluruh dunia, dan cabutlah bibit Herodes dari hatiku. Amin.