Minggu, 27 Desember 2026
Iman yang Diraba
Iman itu diajarkan atau ditulari? Coba ingat-ingat dari mana iman kita berasal. Kebanyakan kita tidak akan menunjuk buku atau kotbah. Kita akan menunjuk orang: nenek yang mengajak berdoa sebelum tidur, ayah yang setia mengantar ke gereja, ibu yang tanda salibnya kita tiru sejak belum mengerti artinya. Iman datang kepada kita lewat tangan, suara, dan kebiasaan orang serumah.
Bacaan pertama pesta Keluarga Kudus ini menyimpan kalimat yang mengharukan dari Yohanes tua: apa yang telah kami dengar, yang telah kami lihat dengan mata kami, dan yang telah kami raba dengan tangan kami tentang Firman hidup, itulah yang kami tuliskan kepada kamu. Iman kristiani bukan teori yang melayang. Ia berawal dari sesuatu yang bisa diraba: Allah yang menjadi bayi, tumbuh dalam sebuah keluarga di Nazaret, bisa digendong Maria, bisa diajari Yusuf memegang gergaji.
Keluarga kudus bukanlah keluarga tanpa masalah. Keluarga Nazaret mengungsi ke Mesir, pernah kehilangan anak di Yerusalem, hidup sederhana di kampung yang dipandang sebelah mata. Yang membuatnya kudus bukan mulusnya keadaan, melainkan hadirnya Allah yang diberi tempat di tengah-tengahnya, dirawat dan diraba setiap hari.
Injil hari ini melompat jauh ke pagi Paskah: Petrus dan murid yang dikasihi Yesus berlari ke kubur kosong. Murid itu masuk, melihat kain kapan terletak di tanah dan kain peluh yang tergulung rapi, lalu ia percaya. Menarik sekali: ia percaya karena melihat bekas. Tuhan yang bangkit tidak ia lihat; yang ia lihat hanya jejak yang ditinggalkan-Nya. Tetapi bagi mata yang penuh kasih, jejak sudah cukup.
Keluarga bekerja dengan cara serupa. Anak-anak jarang melihat Allah secara langsung; mereka melihat jejak-Nya pada orang tuanya. Cara ayah dan ibu saling memaafkan sesudah bertengkar, kejujuran dalam mencari nafkah, doa yang tetap dipanjatkan di masa sulit: semua itu seperti kain kapan yang tergulung rapi, bekas kehadiran yang membuat orang serumah akhirnya melihat dan percaya.
Maka pertanyaan pesta ini sederhana namun dalam: jejak apa yang saya tinggalkan di rumah? Kalau anak dan cucu kelak meraba-raba kenangan tentang kita, akankah mereka menemukan bekas kehadiran Allah di sana?
Yohanes menutup salamnya: semuanya ini kami tuliskan supaya sukacita kami menjadi sempurna. Iman yang dibagikan di rumah tidak berkurang. Ia justru menggenapkan sukacita.
Tuhan, jadikanlah keluarga kami tempat Engkau dapat dilihat, didengar, dan diraba. Sempurnakanlah sukacita kami. Amin.