Kamis, 24 Desember 2026
Menunggu Fajar
Orang yang pernah menunggui orang sakit semalaman tahu betapa panjangnya malam. Jam dua, jam tiga, jam empat. Lalu di ufuk timur langit mulai pucat, dan ada kelegaan yang sulit diterangkan: sebentar lagi pagi.
Kemarin kita mendengar mulut Zakharia terbuka setelah sembilan bulan bisu. Hari ini, pada pagi terakhir Adven, kita mendengar apa yang dinyanyikannya. Sembilan bulan diam rupanya bukan hukuman kosong; itu masa mengeram. Dan yang menetas adalah salah satu madah terindah Kitab Suci: terpujilah Tuhan, Allah Israel, sebab Ia melawat umat-Nya dan membawa kelepasan baginya.
Di ujung nyanyiannya, Zakharia memandang bayinya, lalu memandang lebih jauh lagi: oleh rahmat dan belas kasihan Allah kita, Surya pagi dari tempat yang tinggi akan melawat kita, untuk menyinari mereka yang diam dalam kegelapan dan dalam naungan maut.
Surya pagi. Malam ini kita akan menyambut-Nya. Dunia sudah lama duduk dalam gelap: perang yang tak kunjung usai, harga yang mencekik, hati yang letih. Tetapi langit timur sudah pucat. Fajar tidak pernah bisa dicegah oleh malam, sepanjang apa pun malam itu.
Nanti malam, ketika lilin dinyalakan, biarlah hati kita ikut menyanyi bersama Zakharia. Penantian selesai. Pagi datang.
Tuhan, arahkanlah kakiku kepada jalan damai sejahtera, dan terbitlah dalam hatiku, ya Surya pagi. Amin.