‹ Semua renungan

Jumat, 25 Desember 2026

Firman yang Belum Bisa Bicara

Setiap kali bayi lahir, satu rumah belajar bahasa baru. Bayi tidak bisa mengatakan apa-apa, maka semua orang belajar membaca dia: tangis yang begini artinya lapar, yang begitu artinya mengantuk. Aneh sebenarnya. Justru anggota keluarga yang tidak bisa bicara itulah yang paling banyak berbicara kepada kita.

Hari ini Gereja membaca pembukaan Injil Yohanes, halaman yang paling megah dalam Kitab Suci: pada mulanya adalah Firman; Firman itu bersama-sama dengan Allah dan Firman itu adalah Allah. Segala sesuatu dijadikan oleh Dia. Lalu ayat keempat belas menukik: Firman itu telah menjadi manusia dan diam di antara kita.

Dan bagaimana rupa Firman itu ketika tiba? Seorang bayi. Bahasa Latin menyebut bayi infans, artinya yang belum dapat berbicara. Di sinilah Natal menyimpan paradoksnya yang paling dalam: Firman menjadi yang tak bisa berkata-kata. Sabda yang menciptakan langit dan bumi kini hanya bisa menangis, dan tangisnya harus dipelajari artinya oleh Maria dan Yusuf, seperti setiap orang tua mempelajari bayinya.

Surat Ibrani merumuskannya: dahulu Allah berbicara dengan perantaraan nabi-nabi, kini Ia berbicara dengan perantaraan Anak-Nya. Perhatikan caranya berbicara. Bukan dengan gemuruh dari langit, melainkan dengan kehadiran. Bayi tidak berpidato; ia hanya ada, dan keberadaannya mengubah seisi rumah. Begitulah Allah memilih menyampaikan kata terakhir-Nya kepada dunia: bukan keterangan tambahan tentang diri-Nya, melainkan diri-Nya sendiri, terbaring di palungan, bisa dipandang, bisa digendong.

Yesaya melukiskan betapa indahnya kedatangan pembawa berita yang mengabarkan damai dan berkata kepada Sion: Allahmu itu Raja! Para gembala Betlehem mengalaminya malam itu; kita mengalaminya hari ini. Sebab Natal bukan kenangan, melainkan kabar yang setiap tahun diucapkan baru: Allah tidak memerintah dari jauh.

Tetapi Yohanes juga mencatat kalimat yang menusuk di tengah sukacita ini: Ia datang kepada milik kepunyaan-Nya, tetapi orang-orang kepunyaan-Nya itu tidak menerima-Nya. Firman bisa saja hadir dan tidak didengarkan, seperti bayi bisa saja menangis dan tidak dipedulikan. Maka ayat berikutnya menjadi undangan pribadi: semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa menjadi anak-anak Allah.

Menerima bayi artinya memberi ruang: menggeser kebiasaan, bangun malam, mengubah susunan rumah. Menerima Bayi Betlehem pun begitu. Ia tidak merebut tempat. Ia menunggu diberi tempat.

Hari ini, di tengah semua suara perayaan, sediakanlah sejenak keheningan. Firman itu berbicara paling jelas justru tanpa kata-kata.

Tuhan Yesus, Firman yang menjadi bayi, ajarilah aku mendengar-Mu dalam diam dan memberi-Mu tempat di rumah hidupku. Selamat datang, Imanuel. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →