Selasa, 22 Desember 2026
Nyanyian Ibu
Setiap ibu punya nyanyian. Ada yang berupa tembang menjelang anaknya tidur, ada yang sekadar senandung di dapur. Dari nyanyian ibunya, seorang anak pertama kali belajar tentang dunia: apa yang dicintai ibunya, apa yang diyakininya.
Kemarin Elisabet berseru memberkati Maria. Hari ini Maria menjawab dengan nyanyian yang tak habis dinyanyikan Gereja sampai sekarang: jiwaku memuliakan Tuhan. Magnificat. Dengarkan isinya, dan kita akan terkejut. Ini bukan lagu nina bobo yang manis. Ia menurunkan orang berkuasa dari takhta dan meninggikan orang rendah; Ia melimpahkan yang baik kepada orang lapar dan menyuruh orang kaya pergi dengan tangan hampa. Gadis desa itu menyanyikan Allah yang membalik keadaan dunia.
Bacaan pertama menghadirkan ibu penyanyi yang lain: Hana, yang mengantar Samuel kecil ke rumah Tuhan di Silo. Anak yang dimintanya bertahun-tahun dalam air mata justru diserahkannya kembali. Nyanyian syukur Hana kelak menjadi bahan dasar nyanyian Maria: keduanya memuji Allah yang berpihak pada yang kecil.
Yesus tumbuh dalam gema nyanyian ibu-Nya. Boleh jadi kabar baik bagi orang miskin yang kelak diwartakan-Nya pertama kali didengar-Nya sebagai senandung di rumah Nazaret.
Apa yang kita nyanyikan di rumah, itulah yang kita wariskan.
Tuhan, ajarilah aku menyanyikan kebesaran-Mu, agar orang-orang serumahku ikut mengenal Engkau. Amin.