Minggu, 20 Desember 2026
Dua Jawaban
Ada penolakan yang terdengar sopan padahal isinya keras kepala. Ditawari bantuan, jawabnya: terima kasih, jangan repot-repot. Kedengarannya rendah hati. Padahal kadang artinya: saya tidak mau berutang budi, saya mau mengatur semuanya sendiri.
Raja Ahas melakukan penolakan semacam itu dalam bacaan pertama. Kerajaannya terjepit, musuh berkoalisi di perbatasan. Allah sendiri menawarkan jaminan lewat Yesaya: mintalah suatu pertanda, dari dunia orang mati yang paling bawah sampai tempat tertinggi yang di atas. Tawaran seluas itu jarang terjadi dalam sejarah. Dan Ahas menjawab: aku tidak mau meminta, aku tidak mau mencobai Tuhan.
Kedengarannya saleh sekali. Tetapi Yesaya tidak terkecoh, sebab ia tahu isi hati raja. Ahas sudah diam-diam bersandar pada Asyur, negara adikuasa zaman itu. Ia menolak tanda karena tidak mau rencananya diganggu Allah. Kesalehan bisa menjadi tameng paling halus untuk berkata: jangan ikut campur, Tuhan.
Namun Allah tidak menyerah pada penolakan manusia. Engkau tidak mau meminta tanda? Tuhan sendirilah yang akan memberikannya: seorang perempuan muda mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki, dan ia akan menamakan Dia Imanuel, Allah menyertai kita.
Berabad-abad kemudian, tanda itu menemukan alamatnya di sebuah rumah sederhana di Nazaret. Dan sungguh kontras dengan istana Ahas. Maria juga terkejut, juga bertanya: bagaimana hal itu mungkin terjadi? Tetapi pertanyaannya bukan pagar untuk menolak, melainkan pintu untuk mengerti. Begitu mendengar bahwa bagi Allah tidak ada yang mustahil, ia menyerahkan seluruh rencananya: jadilah padaku menurut perkataanmu.
Dua tokoh, dua jawaban, dua arah. Ahas menolak tanda demi mempertahankan kendali, dan sejarah mencatat kerajaannya toh runtuh juga. Maria melepaskan kendali, dan lewat rahimnya Allah masuk ke dalam sejarah dunia.
Kita sering lebih mirip Ahas daripada Maria. Berdoa iya, tetapi rencana cadangan tetap dipegang erat, jangan sampai Tuhan mengubah arah hidup yang sudah kita susun. Padahal Adven menuju puncaknya justru dengan pertanyaan ini: beranikah kita membiarkan Allah sungguh masuk? Bukan sebagai tamu yang kita atur jadwalnya, melainkan sebagai Imanuel yang menyertai dan boleh mengubah segalanya.
Beberapa hari lagi Natal. Tanda itu akan diletakkan kembali di hadapan kita: seorang Bayi. Allah sudah memberikan diri-Nya. Tinggal kita: menutup pintu seperti Ahas, atau membuka diri seperti Maria.
Tuhan, aku sering ingin memegang kendali sendiri. Ajarilah aku berkata seperti Maria: jadilah padaku menurut kehendak-Mu. Amin.