‹ Semua renungan

Minggu, 13 Desember 2026

Sabar Seperti Petani

Petani adalah guru besar ilmu menunggu. Sesudah benih ditanam, ia tidak bisa mempercepat apa pun. Dibentak pun padi tidak akan lekas menguning. Yang bisa ia lakukan hanya merawat, menyiangi, lalu menunggu hujan turun pada waktunya. Orang Jawa membekali penantian semacam itu dengan satu keyakinan: wong sabar rejekine jembar. Orang sabar, rezekinya lapang.

Minggu ketiga Adven disebut Minggu Gaudete, dari kata Latin gaudete, bersukacitalah. Lilin ungu berganti merah muda. Tetapi bacaan-bacaannya justru jujur tentang betapa tidak mudahnya bersukacita sambil menunggu.

Lihatlah Yohanes Pembaptis. Dulu ia berkotbah penuh api di tepi Yordan. Sekarang ia mendekam di penjara Herodes, dan dari balik jeruji itu keluar pertanyaan yang getir: Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan orang lain? Nabi terbesar pun bisa ragu ketika kenyataan tidak secepat dan segagah harapannya. Ia menantikan Mesias yang datang dengan kapak dan api. Yang datang ternyata Tabib yang lembut.

Yesus tidak memarahi keraguan itu. Ia mengirim jawaban berupa kenyataan: orang buta melihat, orang lumpuh berjalan, orang kusta menjadi tahir, orang mati dibangkitkan, orang miskin mendengar kabar baik. Persis seperti nubuat Yesaya tentang padang gurun yang berbunga. Lalu ada satu kalimat titipan untuk Yohanes: berbahagialah orang yang tidak menjadi kecewa dan menolak Aku. Seolah Yesus berbisik: Aku bekerja, meski tidak dengan caramu.

Di sinilah surat Yakobus menyambung: bersabarlah sampai kedatangan Tuhan, seperti petani menantikan hasil yang berharga dari tanahnya. Dan ia menambahkan nasihat yang sangat membumi: janganlah kamu bersungut-sungut dan saling mempersalahkan. Ternyata musuh utama penantian bukan waktu yang panjang, melainkan hati yang masam. Orang yang menunggu sambil bersungut akan merusak sesama penunggu.

Sukacita kristiani memang bukan sukacita orang yang sudah menerima segalanya. Ia sukacita petani yang memandang sawah hijau dan sudah mencium bau panen. Sukacita orang yang percaya bahwa hujan akan turun, sebab yang menjanjikan setia.

Barangkali kita sedang berada di posisi Yohanes: berdoa lama, jawabannya tak kunjung kelihatan, atau kelihatan tetapi tidak sesuai pesanan. Minggu Gaudete mengajak kita bertanya ulang: yang kutunggu ini Tuhan yang hidup, atau Tuhan versi kemauanku sendiri?

Bersukacitalah. Bukan karena semua sudah beres, melainkan karena Ia sudah dekat, dan tangan-Nya tidak pernah berhenti bekerja.

Tuhan, ketika penantianku terasa panjang, jagalah hatiku tetap lapang dan sukacitaku tetap menyala. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →