Minggu, 6 Desember 2026
Meluruskan Jalan
Kalau pejabat tinggi mau datang, jalan kampung mendadak mulus. Lubang ditambal semalam, rumput dipangkas, pagar dicat, spanduk selamat datang dibentangkan. Kita paham benar: tamu besar menuntut jalan yang layak.
Yohanes Pembaptis tampil di padang gurun dengan pengumuman semacam itu. Persiapkanlah jalan untuk Tuhan, luruskanlah jalan bagi-Nya. Bedanya, jalan yang ia maksud tidak bisa dikerjakan dinas pekerjaan umum. Jalan itu ada di dalam hati. Yang berlubang bukan aspal, melainkan kejujuran kita. Yang bengkok bukan tikungan, melainkan niat kita.
Maka seruannya keras: bertobatlah. Dan kepada orang Farisi yang datang bermodal silsilah, ia lebih keras lagi: jangan mengira cukup berkata, Abraham adalah bapa kami. Allah dapat menjadikan anak-anak Abraham dari batu-batu ini. Status rohani, kata Yohanes, tidak bisa diwariskan seperti tanah. Yang diminta bukan kartu keluarga, melainkan buah pertobatan.
Buah macam apa? Bacaan pertama dan kedua memberi gambarnya. Yesaya melukis damai yang sampai ke kandang binatang: serigala tinggal bersama domba, macan tutul berbaring di samping kambing, dan seorang anak kecil menggiring mereka. Lukisan yang hampir mustahil. Tetapi bukankah di rumah dan lingkungan kita juga ada serigala dan domba? Watak yang keras dan yang lembut, yang cepat menerkam dan yang gampang diterkam, dipaksa hidup satu atap. Damai bukan berarti semua menjadi seragam. Damai berarti yang berbeda bisa berbaring berdampingan tanpa saling memangsa.
Paulus menurunkan lukisan itu ke bahasa jemaat: terimalah satu akan yang lain, sama seperti Kristus telah menerima kita. Di situlah jalan Tuhan diluruskan. Setiap kali kita menerima orang yang menjengkelkan, satu lubang tertambal. Setiap kali kita berdamai sesudah bertengkar, satu tikungan diluruskan.
Adven pekan kedua ini menyodorkan cermin. Siapa serigala bagi saya akhir-akhir ini? Siapa yang saya anggap domba yang boleh diterkam kata-kata saya? Dan kalau Tuhan datang lewat jalan hati saya hari ini, Ia akan menemukan jalan yang siap atau proyek yang mangkrak?
Kapak sudah tersedia pada akar pohon, kata Yohanes. Kalimat itu bukan untuk menakut-nakuti, melainkan untuk menyadarkan bahwa waktu persiapan tidak selamanya. Tamu yang kita nantikan ini jauh melampaui pejabat mana pun. Ia Raja Damai, dan Ia tidak datang untuk lewat saja. Ia datang untuk tinggal. Pantaslah jalan-Nya mulai dikerjakan hari ini, selagi masih ada waktu.
Tuhan, luruskanlah yang bengkok dalam hatiku, dan ajarilah aku menerima sesamaku seperti Engkau menerima aku. Amin.