Sabtu, 5 Desember 2026
Tuaian dan Tangan
Petani mana pun tahu: masa tanam bisa dikerjakan pelan-pelan, tetapi masa panen tidak bisa menunggu. Padi yang menguning harus segera dituai. Telat sedikit, rontok di tangkai atau habis oleh burung. Masalah klasiknya satu: tenaga kurang.
Kemarin kita mendengar dua orang buta yang baru dicelikkan langsung memasyhurkan Yesus ke mana-mana. Hari ini Yesus memandang orang banyak yang lelah dan terlantar seperti domba tanpa gembala, lalu berkata kepada murid-murid-Nya: tuaian memang banyak, tetapi pekerja sedikit.
Perhatikan urutannya. Yesus tidak langsung berkata: pergilah. Ia berkata: mintalah. Berdoalah dulu kepada tuan yang empunya tuaian. Baru sesudah itu kedua belas murid dipanggil dan diutus. Yang berdoa meminta pekerja ternyata dijadikan pekerja. Doa itu seperti bumerang. Hati-hati mengucapkannya.
Kita pun sering begitu. Mengeluh gereja kekurangan pelayan, sambil duduk manis. Mengeluh lingkungan tidak ada yang mengurus, sambil menonton. Padahal keluhan itu barangkali cara Tuhan mengetuk: engkau sendiri bagaimana? Jangan-jangan jawaban atas doa kita selama ini adalah kita sendiri.
Adven bukan musim menonton. Tuaian ada di rumah, di lingkungan, di tempat kerja. Yang kurang bukan ladangnya, melainkan tangannya. Dan sepasang tangan yang bersedia selalu lebih berharga daripada seribu keluhan.
Tuhan, Engkaulah empunya tuaian. Inilah tanganku, pakailah. Amin.