‹ Semua renungan

Kamis, 3 Desember 2026

Rumah di Musim Hujan

Musim hujan adalah musim ujian bagi rumah. Bocor kecil ketahuan. Tembok rembes kelihatan. Dan rumah yang fondasinya asal-asalan tinggal menunggu waktu.

Kemarin Yesaya berbicara tentang perjamuan di gunung Tuhan. Hari ini ia menyanyikan kota yang kuat: temboknya keselamatan, dan yang hatinya teguh dijagai dengan damai sejahtera, sebab kepada Tuhan ia percaya. Kota itu kuat bukan karena batunya, melainkan karena Penghuninya.

Yesus memakai gambar yang sama. Dua rumah, hujan yang sama, banjir yang sama. Satu berdiri, satu rubuh. Bedanya bukan pada cuaca, melainkan pada fondasi: mendengar lalu melakukan, atau mendengar saja. Berseru Tuhan, Tuhan, ternyata belum tentu apa-apa. Fondasi memang bagian rumah yang tidak kelihatan, tetapi justru dialah yang menentukan segalanya ketika badai datang.

Hari ini Gereja mengenang Santo Fransiskus Xaverius. Ia meninggalkan karier cemerlang di Paris dan berlayar sampai ke Asia untuk mewartakan Injil. Hidupnya seperti rumah yang diuji badai samudera, dan tidak rubuh. Fondasinya jelas: bukan mendengar firman saja, melainkan melakukannya sampai ke ujung bumi.

Kita tidak harus berlayar jauh. Cukup jujur bertanya: dari firman yang saya dengar pekan ini, mana yang sudah saya lakukan?

Tuhan, jadikanlah firman-Mu fondasi hidupku, bukan sekadar hiasannya. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →