Rabu, 2 Desember 2026
Meja yang Panjang
Kalau ada hajatan di kampung, yang paling diingat orang bukan dekorasinya. Yang diingat makanannya. Cukup atau tidak. Tuan rumah yang baik selalu masak lebih, sebab pantang membiarkan tamu pulang lapar.
Yesaya melukiskan keselamatan justru dengan gambar hajatan: perjamuan dengan masakan bergemuk dan anggur yang tua benar, di atas gunung, untuk segala bangsa. Bukan untuk kalangan sendiri. Semua diundang. Dan di meja itu Allah bukan hanya menyuguhkan makanan. Ia mengoyakkan kain perkabungan, menghapus air mata, meniadakan maut.
Injil hari ini seperti cicipan kecil dari perjamuan besar itu. Yesus tidak tega menyuruh orang banyak pulang dengan lapar. Tujuh roti dipecah, semua makan sampai kenyang, sisanya tujuh bakul penuh. Khas tuan rumah yang baik: bukan pas-pasan, melainkan berlimpah. Dan semuanya berawal dari satu kalimat: hati-Ku tergerak oleh belas kasihan. Perjamuan Allah selalu dimulai dari hati yang tidak tega.
Adven adalah undangan yang sedang diantar ke rumah kita. Pertanyaannya sederhana: kita mau datang, atau sibuk mencari alasan? Dan sambil menunggu perjamuan itu, adakah meja kita cukup panjang untuk orang lain? Sepiring nasi bagi tetangga kadang lebih fasih bicara tentang surga daripada seribu kata.
Tuhan, Engkau tuan rumah yang murah hati. Jadikanlah mejaku perpanjangan meja-Mu. Amin.