Selasa, 1 Desember 2026
Tunas dari Tunggul
Di halaman rumah, sebatang pohon mangga ditebang karena akarnya mengangkat lantai. Yang tersisa hanya tunggul. Berbulan-bulan ia diam, dijadikan tempat duduk, ditaruhi pot. Lalu suatu pagi ada yang hijau di sisinya. Tunas.
Yesaya berbicara tentang tunggul seperti itu. Kerajaan Daud sudah ditebang habis, tinggal tunggul Isai. Secara politik, tamat. Tetapi justru dari tunggul yang tampak mati itu Allah menumbuhkan taruk yang akan berbuah. Bukan dari pohon yang gagah.
Aneh, tetapi begitulah cara Allah bekerja. Dalam Injil, Yesus bersyukur karena rahasia Kerajaan justru dinyatakan kepada orang kecil, bukan kepada orang bijak dan orang pandai. Tunggul, bukan pohon rindang. Orang kecil, bukan orang besar.
Adven mengajak kita memeriksa tunggul-tunggul dalam hidup kita. Rencana yang kandas. Relasi yang layu. Harapan yang sudah kita tebang sendiri. Benarkah semuanya tamat? Atau justru di situ Allah sedang menyiapkan tunas? Sebab tunas tidak pernah minta izin. Ia muncul diam-diam, hijau, kecil, dan keras kepala.
Masa penantian ini bukan menunggu di tempat kosong. Kita menunggu di depan tunggul, dengan mata yang belajar melihat hijau yang kecil.
Tuhan, tumbuhkanlah tunas harapan-Mu di bagian hidupku yang kuanggap sudah mati. Amin.