Minggu, 29 November 2026
Tahun Baru yang Sunyi
Tahun baru umat katolik tidak jatuh pada satu Januari. Ia jatuh hari ini, Minggu Adven pertama. Tidak ada kembang api, tidak ada terompet. Hanya satu lilin ungu dinyalakan di tengah gereja yang hening. Tahun baru kita mulai dengan menunggu.
Adven berasal dari bahasa Latin adventus, artinya kedatangan. Yang kita nantikan bukan tanggal, melainkan Pribadi. Ia pernah datang di Betlehem. Ia akan datang pada akhir zaman. Dan di antara keduanya, Ia terus datang: dalam Sabda, dalam Ekaristi, dalam wajah sesama. Adven melatih kita untuk tidak melewatkan kedatangan yang ketiga itu.
Paulus memakai bahasa orang bangun pagi: saatnya telah tiba bagi kamu untuk bangun dari tidur; hari sudah jauh malam, telah hampir siang. Menarik, orang bisa tidur sambil berjalan. Badan sibuk bekerja, hati terlelap dalam rutinitas. Bangun yang dimaksud Paulus bukan soal jam, melainkan soal sadar: menanggalkan perbuatan kegelapan, mengenakan Kristus seperti mengenakan pakaian hari yang baru.
Injil menajamkan peringatan itu dengan kisah zaman Nuh. Orang makan dan minum, kawin dan mengawinkan. Hidup berjalan wajar, sampai air bah datang dan mereka tidak tahu akan sesuatu. Dua orang di ladang, yang seorang dibawa, yang lain ditinggalkan. Pekerjaannya sama, kesiapannya berbeda. Yang membedakan bukan tempat kita berdiri, melainkan keadaan hati kita saat Ia tiba. Karena itu berjaga-jagalah, kata Yesus, sebab kamu tidak tahu pada hari mana Tuhanmu datang. Kalimat itu akan menggema sepanjang Adven.
Lalu untuk apa semua penantian ini? Yesaya memberi gambarnya yang paling indah: segala bangsa berduyun-duyun ke gunung Tuhan, dan pedang-pedang ditempa menjadi mata bajak, tombak menjadi pisau pemangkas. Alat pembunuh dijadikan alat penghidup. Menanti Tuhan bukan duduk pasif; ia ikut menempa. Setiap kali kita mengubah kata yang melukai menjadi kata yang menyembuhkan, kita sedang mengerjakan nubuat Yesaya di dapur sendiri. Damai antarbangsa selalu berawal dari damai antartetangga.
Empat pekan terbentang di depan. Dunia akan mengisinya dengan diskon dan hiruk-pikuk belanja. Kita diajak mengisinya dengan yang lain: bangun lebih awal untuk berdoa, berdamai dengan satu orang, menyalakan lilin dan menunggu. Lilin pertama sudah menyala; tiga lagi akan menyusul, dan Dia yang dinanti tidak pernah terlambat. Hai kaum keturunan Yakub, ajak Yesaya, mari kita berjalan di dalam terang Tuhan.
Tuhan Yesus, Engkau datang pada saat yang tidak kuduga. Bangunkan aku dari tidurku, dan ajari aku menanti-Mu sambil menempa damai. Amin.