‹ Semua renungan

Minggu, 22 November 2026

Raja yang Membalut Luka

Penobatan raja selalu enak ditonton: mahkota, karpet merah, barisan pengawal, rakyat melambai dari kejauhan. Ukuran seorang raja, menurut mata dunia, adalah seberapa banyak orang yang melayaninya.

Hari ini, di puncak tahun liturgi, Gereja merayakan Kristus Raja Semesta Alam. Tetapi bacaan pertama langsung membalik gambar penobatan itu. Raja kita memperkenalkan diri sebagai gembala yang turun ke lapangan: yang hilang akan Kucari, yang tersesat akan Kubawa pulang, yang luka akan Kubalut, yang sakit akan Kukuatkan. Itu bukan pekerjaan istana. Itu pekerjaan kotor, berdebu, berkeringat. Raja macam apa yang tangannya sibuk membalut luka domba?

Minggu lalu kita mendengar hamba-hamba dititipi talenta selama tuannya pergi. Minggu ini sang Tuan kembali, dan Injil memperlihatkan hari perhitungannya: semua bangsa dikumpulkan, domba dipisahkan dari kambing. Yang mengejutkan adalah soal ujiannya. Bukan prestasi besar, bukan jabatan gerejawi, bukan kefasihan doa. Melainkan: ketika Aku lapar, kamu memberi Aku makan; ketika Aku sakit, kamu melawat Aku. Sang Raja ternyata selama ini menyamar. Ia bersembunyi di balik wajah orang yang paling hina. Kalimat-Nya tegas: segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.

Perhatikan: dua kelompok itu sama-sama kaget. Tuhan, bilamanakah kami melihat Engkau lapar? Baik yang diberkati maupun yang dihukum tidak menyadarinya. Artinya, kasih yang dihitung di pengadilan terakhir bukan kasih yang dipentaskan sambil menoleh ke kamera, melainkan kasih yang sudah menjadi kebiasaan. Begitu biasa sampai pelakunya sendiri lupa.

Paulus dalam bacaan kedua melebarkan cakrawalanya: Kristus harus memegang pemerintahan sampai semua musuh diletakkan di bawah kaki-Nya, dan musuh terakhir yang dibinasakan ialah maut. Lalu, dan ini yang paling indah, Ia menyerahkan Kerajaan kepada Bapa, supaya Allah menjadi semua di dalam semua. Raja kita tidak menggenggam kuasa untuk diri-Nya. Bahkan takhta pun Ia serahkan. Dari gembala yang membalut luka sampai Anak yang menyerahkan Kerajaan, garisnya lurus: kuasa dalam Kerajaan ini selalu berbentuk pemberian diri.

Pekan depan kita memasuki Adven, menantikan Raja yang sama datang sebagai bayi di palungan. Antara palungan dan takhta pengadilan, Ia tetap satu: Raja yang memilih yang kecil. Maka pertanyaan penutup tahun ini sederhana: di wajah siapa, pekan ini, kita akan melayani Raja kita yang menyamar?

Tuhan Yesus, Raja semesta alam, ajarilah aku mengenali-Mu dalam saudara-Mu yang paling hina, supaya kelak aku berdiri di sebelah kanan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →