Jumat, 20 November 2026
Manis Lalu Pahit
Jamu yang paling manjur biasanya yang paling pahit. Anak-anak lari menghindar, orang tua meneguknya sambil meringis. Sehat memang jarang datang lewat rasa manis saja.
Penglihatan Yohanes hari ini aneh: ia disuruh memakan gulungan kitab. Di mulut manis seperti madu, di perut menjadi pahit. Sesudah itu perintahnya jelas: engkau harus bernubuat lagi. Begitulah firman Allah bekerja. Manis ketika dibaca dan direnungkan; pahit ketika mulai menuntut perubahan hidup, dan lebih pahit lagi ketika harus diwartakan kepada orang yang belum tentu senang mendengarnya. Firman yang hanya berhenti di mulut belum sungguh dimakan.
Injil memperlihatkan pahitnya itu pada diri Yesus sendiri. Kemarin Ia menangisi Yerusalem dari atas bukit. Hari ini Ia masuk ke Bait Allah dan bertindak: para pedagang diusir. Rumah-Ku adalah rumah doa, tetapi kamu menjadikannya sarang penyamun. Kasih yang kemarin menangis dan kasih yang hari ini menegur adalah kasih yang sama. Dan harganya mahal: para pemuka mulai mencari jalan membinasakan Dia.
Iman yang hanya mau manisnya akan berhenti sebagai hiburan. Iman yang utuh berani menelan pahitnya juga: teguran, tanggung jawab, kejujuran pada diri sendiri.
Tuhan, beri aku keberanian memakan firman-Mu sampai habis, manis maupun pahitnya. Amin.