‹ Semua renungan

Kamis, 19 November 2026

Tangis di Atas Bukit

Ada tangis yang keluar bukan karena diri sendiri disakiti, melainkan karena orang yang dikasihi menolak ditolong. Tangis orang tua di depan anak yang memilih jalan yang salah. Nasihat sudah, teladan sudah. Yang tersisa air mata.

Kemarin, dalam perumpamaan, seorang raja berangkat menuju kotanya untuk dinobatkan. Hari ini Yesus sungguh tiba di dekat kota-Nya, dan kita melihat Ia menangis. Bukan di makam sahabat, melainkan di atas bukit, memandang kota. Wahai, kata-Nya kepada Yerusalem, betapa baiknya jika pada hari ini juga engkau mengerti apa yang perlu untuk damai sejahteramu. Kota itu ramai, sibuk, religius. Bait Allahnya megah, ibadahnya padat. Tetapi satu kalimat Yesus merangkum kegagalannya: engkau tidak mengetahui saat Allah melawat engkau.

Kalimat itu pelan-pelan berbalik menunjuk kita. Allah melawat lewat peristiwa, lewat orang, lewat gelisah halus di dalam hati. Lawatan-Nya jarang berisik. Ia bisa lewat begitu saja kalau kita sedang penuh dengan agenda sendiri.

Perhatikan juga apa yang tidak dilakukan Yesus: Ia tidak mengutuki kota itu. Ia menangisinya. Di hadapan hati yang tertutup, Allah kita bukan Allah yang membanting pintu, melainkan yang berdiri di luar dan berduka.

Hari ini Ia melawat lagi. Semoga mata kita tidak sedang menatap ke arah lain.

Tuhan, jangan biarkan lawatan-Mu lewat tanpa kusadari. Berilah aku hati yang mengerti apa yang perlu untuk damaiku. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →