Senin, 16 November 2026
Kasih yang Semula
Pasangan yang sudah puluhan tahun menikah kadang menemukan surat cinta lama di dasar lemari. Tulisan tangan yang sama, nama yang sama. Yang membaca sampai tersipu sendiri: dulu kita seperti ini?
Kepada jemaat Efesus, Kristus mengirim surat berisi pujian panjang: jerih payahmu, ketekunanmu, kesabaranmu menanggung derita demi nama-Ku. Rapor yang nyaris sempurna. Lalu satu kalimat menusuk: namun Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula. Semua mesin masih berputar. Yang hilang apinya.
Teguran ini terasa akrab bagi orang yang sudah lama beragama. Pelayanan jalan, kebiasaan doa jalan, tetapi semuanya bergerak karena rutinitas, bukan karena cinta. Rajin yang dingin. Dari luar tidak kelihatan bedanya; Kristus melihatnya jelas.
Obatnya Ia sebutkan sendiri, tiga kata kerja berurutan: ingatlah, bertobatlah, lakukanlah lagi apa yang semula. Kasih yang semula tidak kembali dengan ditunggu. Ia kembali dengan dikerjakan ulang.
Dalam Injil, seorang buta di pinggir jalan Yerikho berteriak memanggil Yesus dan tidak mau disuruh diam. Makin ditegur makin keras. Barangkali begitulah rupa kasih yang semula: lapar, tidak malu, tidak bisa ditunda.
Tuhan, nyalakan kembali api yang dulu Kaupasang di hatiku. Aku mau mulai lagi dari yang semula. Amin.