‹ Semua renungan

Minggu, 15 November 2026

Modal Titipan

Di pasar, ada kebiasaan yang diam-diam indah: pedagang tua memodali anak muda. Diberi barang dulu, bayar belakangan. Yang dititipi lalu berdagang keliling, dan modal kecil itu berputar menghidupi keluarga. Modal titipan tidak pernah dimaksudkan untuk disimpan. Ia dimaksudkan untuk berputar.

Minggu lalu kita mendengar sepuluh gadis menanti mempelai dengan pelita dan minyak. Minggu ini penantian itu diberi isi. Menanti Tuhan ternyata bukan duduk memandangi pintu, melainkan mengelola titipan. Seorang tuan bepergian jauh dan mempercayakan hartanya: lima talenta, dua talenta, satu talenta, masing-masing menurut kesanggupannya. Satu talenta itu bukan uang receh; nilainya upah buruh belasan tahun. Artinya, tidak ada hamba yang berangkat dengan tangan kosong. Termasuk kita.

Dua hamba pertama menjalankan uang itu dan berbuah. Hamba ketiga menggali lubang dan menguburnya. Dengarkan alasannya: aku takut, sebab tuan adalah manusia yang kejam. Di situ akar masalahnya. Bukan di tangannya, melainkan di kepalanya. Talenta yang dikubur memang tidak berkurang satu sen pun, tetapi justru itulah kerugiannya: ia tidak pernah menjadi apa-apa. Gambaran yang keliru tentang sang tuan melahirkan tangan yang berhenti. Begitu juga iman: kalau Allah kita bayangkan sebagai mandor kejam yang menunggu kesalahan, hidup rohani menjadi serba takut. Yang penting jangan salah. Steril, rapi, terkubur.

Padahal dua hamba yang lain menemukan wajah tuan yang berbeda: masuklah dan turutlah dalam kebahagiaan tuanmu. Tuan itu ternyata bukan pemburu laba, melainkan pembagi kebahagiaan. Ia hanya ingin hamba-hambanya berani hidup.

Bacaan pertama melukis potret keberanian yang sederhana: perempuan cakap yang tangannya memegang pemintal dan terulur kepada yang miskin. Tidak ada yang spektakuler di sana. Hanya kesetiaan harian yang terus berputar, hari demi hari. Itulah rupa talenta yang dijalankan: kerja yang tekun, rumah yang dirawat, tangan yang terbuka. Perbuatannya memuji dia di pintu-pintu gerbang, kata Amsal; buah memang tidak perlu memuji dirinya sendiri.

Paulus menambahkan dalam bacaan kedua: kita ini anak-anak terang, bukan orang malam. Hari Tuhan memang datang seperti pencuri, tetapi hanya bagi yang tidur. Bagi yang bangun dan bekerja, ia datang seperti tuan yang pulang: membawa perhitungan, tetapi juga membawa pesta.

Tahun liturgi tinggal sepekan. Sebelum Sang Pemilik kembali, baik kita bertanya jujur: talenta mana yang masih terkubur rapi karena takut, dan berani tidak kita menggalinya kembali pekan ini?

Tuhan, Engkau mempercayakan banyak hal kepadaku. Usirlah takutku, supaya titipan-Mu berputar menjadi berkat, dan aku boleh turut dalam kebahagiaan-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →