Sabtu, 14 November 2026
Tidak Jemu-jemu
Anak kecil punya senjata yang jarang gagal: bertanya terus. Ayah, kapan berangkat? Lima menit kemudian: kapan? Sepuluh menit kemudian: jadi tidak? Orang tua akhirnya bergerak, bukan karena kalah logika, melainkan karena tidak tahan.
Yesus hari ini memakai gambar serupa: seorang janda yang datang terus-menerus kepada hakim yang lalim. Hakim itu tidak takut Allah dan tidak menghormati siapa pun, tetapi akhirnya menyerah karena disusahkan. Lalu Yesus menarik garisnya: kalau hakim jahat saja akhirnya bertindak, masakan Allah yang baik mengulur-ulur waktu bagi orang pilihan-Nya yang berseru siang malam?
Kemarin kita mendengar hari Anak Manusia yang datang tanpa jadwal. Bagaimana bertahan menantikannya? Lukas membuka perumpamaan ini dengan jawaban yang gamblang: mereka harus selalu berdoa dengan tidak jemu-jemu. Kata kuncinya jemu. Doa jarang mati mendadak. Ia mati pelan-pelan karena bosan. Dan bosannya masuk akal: sudah lama meminta, jawaban belum kelihatan. Padahal berhenti mengetuk sering terjadi sesaat sebelum pintu dibuka.
Tetapi kalimat penutup Yesus membalik arah pertanyaan: jika Anak Manusia itu datang, adakah Ia mendapati iman di bumi? Persoalan sesungguhnya bukan apakah Allah mendengar. Itu sudah pasti. Persoalannya apakah kita masih di sana, masih mengetuk, ketika jawaban itu tiba.
Tuhan, aku sering lelah meminta. Beri aku hati janda itu: yang percaya, maka tidak berhenti. Amin.