Kamis, 12 November 2026
Terlalu Dekat
Hampir semua orang pernah mencari kacamata yang ternyata sedang bertengger di kepala sendiri. Dicari ke laci, ke meja, ke mana-mana. Padahal dekat sekali. Justru karena terlalu dekat, ia tidak terasa.
Orang Farisi bertanya kepada Yesus kapan Kerajaan Allah datang. Mereka menunggu tanda besar: gejolak politik, mukjizat langit, jadwal yang bisa dihitung. Jawaban Yesus mengempiskan semua teori: Kerajaan Allah datang tanpa tanda-tanda lahiriah, sebab sesungguhnya Kerajaan Allah ada di antara kamu. Yang mereka tunggu-tunggu sedang berdiri di depan hidung mereka.
Kemarin pun begitu. Sepuluh orang kusta disembuhkan, dan hanya satu yang mengenali Allah sedang bekerja di tengah jalan. Yang lain menikmati berkatnya tanpa melihat Pemberinya. Berkat dikenali, Pemberi terlewat.
Kita sering mewarisi mata yang sama. Menunggu Allah di peristiwa dramatis: penampakan, kesembuhan ajaib, pertobatan besar-besaran. Sementara Ia hadir di meja makan, di anak yang tertidur, di tetangga yang mengantar sayur, di Ekaristi yang sunyi. Kerajaan Allah jarang berisik, padahal justru di situ Ia paling sering menunggu.
Jangan-jangan yang kurang selama ini bukan kehadiran-Nya, melainkan kepekaan kita. Hari ini, sebelum mencari jauh-jauh, coba lihat yang paling dekat dulu.
Tuhan, bukalah mataku bagi kehadiran-Mu yang sederhana, yang terlalu dekat untuk kusadari. Amin.