Selasa, 10 November 2026
Tanpa Tepuk Tangan
Di banyak rumah ada pekerja yang tidak pernah menerima tepuk tangan: ibu. Masakan tiba di meja seolah dengan sendirinya. Baju bersih terlipat seperti keajaiban rutin. Jarang ada yang bertanya siapa yang mengerjakan semuanya.
Injil hari ini terdengar keras. Hamba yang sudah membajak seharian masih harus menyiapkan meja, dan tuannya tidak berterima kasih. Lalu Yesus menutup dengan kalimat yang lebih keras lagi: hendaklah kamu berkata, kami adalah hamba-hamba yang tidak berguna; kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan.
Apakah Yesus mengajari kita bersikap dingin? Bukan. Ia sedang membongkar hitung-hitungan rohani yang diam-diam kita pelihara: merasa Allah berutang kepada kita. Sudah rajin ke gereja, sudah melayani, mestinya hidup saya lancar. Iman model begini rapuh, sebab sekali doa terasa tak dijawab, ia merajuk.
Melayani Allah bukan lembur yang menagih upah. Ia napas orang yang tahu dirinya sudah lebih dahulu dilayani, ditebus, dan dikasihi tanpa batas.
Santo Leo Agung yang kita kenang hari ini memimpin Gereja di zaman yang kacau, berhadapan langsung dengan pasukan Attila, dan tetap menyebut dirinya hamba. Yang besar justru yang tidak minta panggung.
Tuhan, ajarilah aku melayani tanpa menunggu tepuk tangan, sebab Engkau lebih dahulu melayani aku. Amin.