Jumat, 6 November 2026
Warga Mana Kita
Isilah formulir apa saja, selalu ada kolom alamat. Kita menulisnya tanpa berpikir. Tetapi coba tanya lebih dalam: di mana sebenarnya kita berumah? Di tempat kita tidur, atau di tempat hati kita pulang?
Kemarin Paulus bercerita tentang melepaskan segala keuntungan demi Kristus. Hari ini ia menyebut alasannya: kewargaan kita adalah di dalam surga. Jemaat Filipi paham betul kalimat itu. Filipi adalah kota koloni Roma; penduduknya bangga berstatus warga Roma meski tinggal ribuan kilometer dari Roma. Paulus meminjam kebanggaan itu: kalian boleh tinggal di bumi, tetapi kalian warga surga. Hiduplah dengan hukum sana, bukan hukum sini.
Ia juga menyebut lawannya sambil menangis: orang-orang yang Tuhannya ialah perut, yang pikirannya semata-mata tertuju kepada perkara duniawi. Warga bumi tulen. Bukan karena mereka penjahat, melainkan karena cakrawalanya pendek: habis di piring dan dompet.
Status kewargaan mestinya kelihatan dari perilaku. Warga surga mengampuni lebih cepat, menggenggam harta lebih longgar, berharap lebih panjang dari usia. Kalau kartu penduduk kita diterbitkan surga, tampakkah itu dari cara kita bekerja, berbelanja, dan memaafkan hari ini? Alamat surga bukan untuk dipajang, melainkan untuk dihidupi.
Tuhan, aku masih berjalan di bumi. Jagalah supaya hatiku tetap beralamat di rumah-Mu. Amin.