Senin, 2 November 2026
Tidak Ada yang Hilang
Awal November, makam-makam mendadak ramai. Orang datang mencabuti rumput, menyalakan lilin, menabur bunga. Orang Jawa menyebutnya nyekar. Ada yang berdiri lama sekali tanpa berkata apa-apa. Sebenarnya kepada siapa kita datang? Kepada batu bertulis nama, atau kepada seseorang?
Gereja hari ini menjawab dengan tenang: kepada seseorang. Hari Arwah bukan hari mengenang barang yang hilang. Ia hari mendoakan pribadi-pribadi yang masih hidup di hadapan Allah, hanya tidak lagi kelihatan oleh mata kita.
Bacaan pertama memperdengarkan suara Ayub. Ia sedang di titik terendah: harta habis, anak-anak mati, kulit tubuhnya rusak. Justru dari situ ia berseru: aku tahu Penebusku hidup. Ia bahkan minta kalimat itu dipahat dengan besi pengukir pada gunung batu. Pengharapan macam apa yang lebih keras dari batu? Pengharapan orang yang yakin bahwa mata ini, mata yang sekarang menangis, kelak akan memandang Allah.
Dalam Injil, Yesus mengucapkan kalimat yang layak dipahat juga: semua yang diberikan Bapa kepada-Ku akan datang kepada-Ku, dan barangsiapa datang kepada-Ku, ia tidak akan Kubuang. Lalu Ia mengulanginya dengan cara lain: jangan ada yang hilang, tetapi supaya Kubangkitkan pada akhir zaman. Perhatikan kata itu: jangan ada yang hilang. Allah bukan pemilik gudang yang merelakan susut. Ia Bapa yang menghitung anak-anak-Nya satu per satu.
Paulus menambah dasarnya: Kristus telah mati untuk kita ketika kita masih berdosa. Kalau saat kita masih seteru saja Ia rela mati, masakan setelah kita menjadi milik-Nya Ia lupa? Pengharapan tidak mengecewakan, tulis Paulus. Bukan karena kita kuat berharap, melainkan karena yang kita harapkan setia.
Maka doa bagi arwah bukan basa-basi kenangan. Ia lalu lintas kasih yang tetap berjalan dua arah. Maut memutus perjumpaan, tetapi tidak memutus persekutuan. Yang kita cintai sedang dimurnikan menuju perjumpaan penuh, dan doa kita menyertai perjalanan mereka. Gereja menyebutnya persekutuan para kudus: yang masih berziarah, yang sedang dimurnikan, dan yang sudah memandang Allah, semuanya saling menopang dalam satu tubuh.
Hari ini, sebutlah nama-nama itu di hadapan Tuhan. Ayah, ibu, kakek, nenek, sahabat. Mereka tidak hilang. Mereka sedang ditunggu, sama seperti kita. Bulan November mengajak kita rajin berziarah dan berdoa bagi mereka; bukan supaya kita murung, melainkan supaya pengharapan kita tetap terlatih.
Tuhan, terimalah jiwa-jiwa yang kami kasihi ke dalam terang-Mu. Bangkitkanlah mereka pada akhir zaman, dan pertemukan kami kembali di rumah-Mu. Amin.