‹ Semua renungan

Sabtu, 31 Oktober 2026

Kursi Paling Belakang

Di pesta pernikahan, kursi adalah bahasa. Deretan depan untuk tamu penting, lengkap dengan nama di sandarannya. Makin ke belakang, makin tanpa nama. Banyak orang datang ke pesta sambil diam-diam mengukur: aku pantasnya duduk di mana?

Yesus memperhatikan hal yang sama di rumah seorang Farisi. Para tamu berebut tempat kehormatan. Lalu Ia memberi nasihat yang kedengarannya seperti siasat pergaulan: kalau diundang, duduklah di tempat yang paling rendah, supaya tuan rumah datang dan berkata, sahabat, silakan duduk di depan. Tetapi ujungnya menyingkap bahwa ini bukan siasat, melainkan hukum Kerajaan: barangsiapa meninggikan diri akan direndahkan, dan barangsiapa merendahkan diri akan ditinggikan.

Kemarin kita mendengar Paulus bersyukur setiap kali mengingat jemaat Filipi. Hari ini, dari penjara yang sama, ia menunjukkan wujud kerendahan hati yang sudah matang: bagiku hidup adalah Kristus dan mati adalah keuntungan. Ia bahkan tidak lagi berebut antara hidup dan mati. Ia ingin pergi dan diam bersama Kristus, tetapi memilih tinggal karena jemaat masih memerlukannya. Orang yang sudah selesai dengan dirinya sendiri memang merdeka: kursi mana pun tidak lagi menentukan harganya.

Harga kita tidak ditentukan letak kursi, melainkan oleh Tuan rumah yang mengenal kita.

Tuhan, lepaskan aku dari rebutan tempat terhormat. Cukuplah bagiku dikenal dan dipanggil sahabat oleh-Mu. Amin.

Buka Doa Hari Ini lengkap →