Kamis, 29 Oktober 2026
Di Bawah Sayap
Induk ayam berubah watak kalau ada bahaya. Elang melintas, dan seluruh halaman ribut. Ia merentangkan sayap, mengeluarkan suara panggilan, dan anak-anaknya berlarian masuk ke kolong sayap itu. Tubuhnya sendiri yang menjadi tameng.
Gambar itulah yang dipilih Yesus ketika menangisi kota yang dicintai-Nya: Yerusalem, Yerusalem, berkali-kali Aku rindu mengumpulkan anak-anakmu, sama seperti induk ayam mengumpulkan anak-anaknya di bawah sayapnya, tetapi kamu tidak mau.
Tiga kata terakhir itu yang paling pedih: kamu tidak mau. Bukan Allah yang kurang rindu. Bukan sayap-Nya yang kurang lebar. Anak-anaknya yang memilih berkeliaran, merasa sanggup menghadapi elang sendirian.
Hari itu Yesus sedang diancam. Herodes hendak membunuh-Nya, kata orang-orang Farisi. Jawab-Nya tenang: Aku harus meneruskan perjalanan-Ku. Ia tahu Yerusalem akan memperlakukan-Nya seperti para nabi sebelumnya. Toh Ia tetap berjalan ke sana. Induk ayam sejati tidak lari dari elang; ia justru memasang badan. Di salib kelak, sayap itu terentang selebar-lebarnya.
Paulus mengingatkan bahwa hidup ini memang medan perjuangan, maka kenakanlah seluruh perlengkapan senjata Allah. Tetapi senjata pertama orang beriman sederhana sekali: mau. Mau pulang, mau berlindung, mau dikumpulkan.
Tuhan, aku sering merasa kuat sendirian. Hari ini aku pulang ke bawah sayap-Mu. Amin.